KOLOM 52

Selamat Jalan Intan, dari Temanmu Adisti

Tapi tangisanmu hari Minggu lalu itu beda. Badanmu pasti rasanya panas, perih, sakit. Aku juga pernah kok kena knalpot motor ibu.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
Original Fine Art Painting by Maria Magdalena Oosthuizen
Ilustrasi 

Halo Intan, salam kenal, namaku Aksara Adisti. Akhir bulan ini umurku pas tiga tahun. Ya, kita seumuran. Kalau sekolah nanti mungkin kita seangkatan. Kebetulan aku juga cewek sama seperti kamu, mungkin juga kita bisa jadi sahabat.

Aku memang belum kenal kamu. Orangtuaku yang sejak kemarin banyak cerita tentang kamu. Katanya kamu sempat masuk rumah sakit karena dilempar botol yang ada apinya. Sampai akhirnya kamu tidak sanggup lagi bertahan dan sekarang lagi menuju surga.

Aku tidak paham kenapa ada orang yang tega melakukan itu. Jahat banget ya.. Tapi satu yang aku paham, kamu cuma pengin sesuatu yang sederhana biar kamu senang. Main boneka atau sepedaan sama teman, bercanda sama bapak, belajar baca juga lihat gambar-gambar hewan sama ibu, dan hal sederhana lainnya pasti sudah cukup untuk bikin kamu bahagia.

Intan, kita seumuran dan aku tahu rasanya perasaan itu. Kamu tahu, setiap ikut salat orangtuaku aku mengucapkan doa kepada Tuhan. "Ya Allah semoga Adis pintel, cepet gede, boleh makan pelmen kalet," begitu doaku. Sederhana ya...

Mungkin kamu juga berdoa yang mirip sama aku saat di gereja bareng orangtuamu. Kamu pasti pengin pinter. Juga pengin cepet dibolehin makan permen karet, atau es krim, atau cokelat, atau main hujan di halaman rumah. Cuma itu kok yang bikin kamu, aku, juga anak-anak balita yang lain bahagia. Kamu cuma mau kumpul bermain sama teman-teman pas sekolah Minggu. Bernyanyi, berlari, tepuk tangan, kadang juga nangis kalau jatuh.

Tapi tangisanmu hari Minggu lalu itu beda. Badanmu pasti rasanya panas, perih, sakit. Aku juga pernah kok kena knalpot motor ibu. Dan itu panas juga, aku juga nangis. Tapi sekali lagi, itu belum seberapa dibandingin yang kamu rasain kemarin. Aku juga anak satu-satunya, sama kaya kamu. Kalau bapak ibuku saja sedih pas aku kena knalpot, orangtuamu pasti jauh lebih sedih. Apalagi kamu sampai dipasangi selang-selang di rumah sakit, cuma tiduran emoh maem.

Intan, jujur aku tidak tahu apa itu surga. Yang aku tahu, kamu sekarang sudah tidak bisa main-main lagi kaya dulu. Tapi aku yakin kamu bakal jauh lebih bahagia di sana. Kamu tidak merasakan panas atau sakit lagi. Kamu tetap cantik, malah lebih cantik seperti bidadari bersayap kaya di film-film kartun yang aku tonton di laptop bapak.

Kamu tidak perlu mikir kenapa ada orang tega melukai kamu dan teman-temanmu kemarin itu. Biar sekarang Tuhan yang melindungimu di sana. Aku cuma mau titip doa ya, semoga anak-anak kaya kita di mana pun di pelosok dunia ini tidak ada lagi yang tersakiti. Semoga anak-anak kaya kita selalu bahagia. Tidak ada lagi yang merebut hak anak-anak kaya kita untuk bermain dan belajar. Walaupun aku tahu, anak-anak kaya kita tak pernah dendam meski disakiti.

Selamat jalan ya Intan. Aku mau main sepedaan dulu, kamu main sepeda juga ya di sana. Biar kita bareng-bareng main meskipun kita tidak bisa saling melihat. Tapi aku tahu, kamu sedang tersenyum di sana.

Oh iya, dapat salam dari bapak ibuku. Mereka dan semua orangtua di bumi ini sayang kamu. Peluk cium dari aku, Adisti. (Hendy Kurniawan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved