Kisah Menegangkan Penerjunan Pasukan AURI di Hutan Rimba Papua
Pleton 2 dan 4 Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) TNI AU di tahun 1962 masih kering pengalaman tempur.
Istirahat semalam, besoknya mereka diangkut lagi dengan truk yang sama ke Pelabuhan Tanjung Priok. Di sini sudah menunggu KM Ambulombo, yang biasa digunakan untuk mengangkut jemaah haji ke tanah suci Mekkah.
“Kalau ada yang tanya kamu-kamu kemana, bilang saja mboten sumerep (tidak tahu),” ujar Pelda (Pur) I Wayan Kurnia menirukan ucapan komandan PGT Kapten Wiriadinata saat itu. Ketika mau naik kapal, Wayan sempat dicandai oleh ABK kapal yang mengatakan, … oooo jadi ini yang mau diterjunkan di Irian.
Kapal pun bergerak meninggalkan Jakarta. Bersama PGT. PU I Hardja Sumarja melihat keanehan di permukaan laut baik di depan maupun di belakang kapal.
Benda aneh yang ia lihat muncul dari bawah permukaan air itu seperti cerobong pembuangan asap di pabrik.
Penasaran dengan benda aneh itu, ia pun menanyakannya kepada ABK kapal. “Karena bawa pasukan satu batalion, kapal ini dikawal oleh kapal selam depan dan belakang,” ujar si ABK. Ooo… kalau begitu yang dilihat Hardja pastilah periskop.
Setibanya di Ambon, pasukan ditempatkan di Laha sebagai pangkalan aju.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selama beberapa di Ambon selain menata lagi semua perlengkapan yang diberikan. Dua Hercules dengan nomor T-1304 dan T-1305 disiapkan untuk membawa mereka.
Segalanya di cek oleh kru pesawat, mulai dari kondisi mesin, baling-baling, jumlah bahan bakar dan sebagainya hingga diyakini benar-benar oke. Karena beberapa jam ke depan mereka akan menerjunkan pasukan para di daerah operasi.
Malam itu juga mereka kembali diingatkan oleh Letkol Udara Dewanto. “Putih tembak, hitam jangan!” Artinya kalau bertemu pasukan Belanda boleh menembak, tapi bila bertemu penduduk Irian, jangan ditembak.
Tak lama kemudian, Panglima Mandala Mayjen Soeharto berpidato di depan semua pasukan, memberikan taklimat terakhir sebelum keberangkatan.
“Saudara-saudara semua adalah pasukan pilihan dan orang-orang pemberani. Tugas saudara-saudara berat dan penuh risiko. Bersama saudara-saudara malam mini diterjunkan kurang lebih satu batalion pasukan-pasukan pilihan seperti saudara-saudara sekalian di tiga sasaran yang berbeda. Sekali lagi, tugas kalian sangat berat tapi sangat mulia. Nasib negeri ini terletak di atas pundak kalian….”
“Apakah kalian sanggup,” tanya Panglima.
“Sanggup,” jawaban pasukan serentak.
“Apakah kalian berani,” tanya Panglima lagi.
“Beraniiiii!”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/operasi-elang_20161111_204327.jpg)