Dokter Cantik Ini Rela Sabar Demi Pasien

Connie yang sebelumnya sempat menggeluti sekolah make up artist ini, iseng mencantumkan Fakultas Kedokteran saat pendaftaran Perguruan Tinggi.

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
tribunjogja/Santo Ari
Connie Calista Tham 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak pernah terbayangkan sebelumnya Connie Calista Tham menjalani profesi sebagai dokter umum.

Siapa sangka, dara asal Balikpapan ini awalnya justru lebih gemar menggeluti bidang kecantikan.

Tidak seperti mahasiswa kedokteran lainnya yang memiliki cita-cita menjadi dokter sejak kecil, Connie begitu ia akrab disapa, hanya mencoba-coba mendaftarkan diri saat Ujian Masuk UGM.

Connie yang sebelumnya sempat menggeluti sekolah make up artist ini, iseng mencantumkan Fakultas Kedokteran saat pendaftaran Perguruan Tinggi karena menganggap fakultas ini menjadi impian banyak orang dan terbilang sulit dimasuki.

”Awalnya tidak bercita-cita jadi dokter, karena jadi dokter itu lama sekolahnya, jiwaku lebih ke bidang seni. Manusia hanya berencana, namun Tuhan yang menggariskan. Melihat banyak orang ingin menjadi dokter, aku berpikir mungkin dengan menjadi dokter aku bisa menolong banyak orang dan bermanfaat bagi orang sekitar,” papar bungsu dari dua bersaudara ini.

Menjalani studi kedokteran, menjadi awal perjuangan Connie. Seperti halnya seniman, Connie menganggap profesi dokter juga layaknya seniman yang mengandalkan perasaan.

Menurutnya, ilmu kedokteran tidak sekaku ilmu fisika atau ilmu matematika yang selalu memiliki jawaban pasti.

Untuk mendiagsonya sebuah penyakit, katanya dokter selalu berinteraksi dengan pasien dan pasti ada opsi jenis penyakit serta cara menanganinya.

Berinteraksi dengan pasien merupakan hal penting bagi seorang dokter untuk menemukan solusi bagi pasiennya.

Dalam berinteraksi tersebut, dokter harus profesional, mengedepankan empati tidak dengan simpati.

”Sudah tidak jamannya dokter itu menjadi diktator, dokter sekarang harus lebih mengerti tentang pasien. Seringnya, aku menempatkan diriku sebagai pasien, untuk tahu kesulitan dan apa yang diinginkan mereka. Intinya, jangan bebani pasien karena mereka sendiri sudah stres dengan penyakit yang dialami, berikan opsi misalnya obat paten atau obat generik sesuai kemampuannya,” terang dara kelahiran 18 Desember 1990 ini.

Dalam berinteraksi dengan pasien, dokter juga harus bisa berkomunikasi dengan baik. Saat masih studi, Connie diajarkan untuk bisa menyampaikan kabar buruk pada pasien dan keluarga secara profesional.

Namun untuk melatih kesabaran dalam menghadapi pasien yang marah-marah, pehobi travelling ini melakukannya secara otodidak.

Kesabaran ini, menurut pengakuannya, sudah didapat saat ia menekuni studi profesi dokter. Menghadapi berbagai macam karakter pasien juga sudah dilatihnya saat ia coass dan menjalani internship.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved