Geliat Pentas Dangdut di Yogya

XT Square, Ikon Musik Dangdutnya Yogyakarta

Hampir setiap malam, puluhan orang datang ke lokasi tersebut untuk menyaksikan dangdut.

Penulis: say | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Siti Ariyanti
Pentas dangdut di XT Square Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM - Pertunjukan musik dangdut atau orang Jawa akrab dengan istilah dangdutan, tak hanya bisa dinikmati di pesta pernikahan ataupun di lapangan. Di Yogyakarta, orang bisa menyaksikan live dangdut setiap hari di sejumlah lokasi.

Salah satu yang paling aktif menggelar pertunjukan adalah XT Square di Umbulharjo, Yogyakarta. Hampir setiap malam, puluhan orang datang ke lokasi tersebut untuk menyaksikan dangdut.

Suyanto, pengelola Gedung Seni Basiyo XT Square menjelaskan, live musik dangdut di lokasi tersebut sudah ada sejak lima tahun lalu. Sebelumnya, ia mengelola dangdut di Purawisata selama 15 tahun.

Setelah di Purawisata tutup, ia langsung pindah ke XT Square.

"XT Square itu terkenalnya ya dangdut. Orang Solo, Klaten, kalau sama XT pasti ingatnya dangdut," ungkap Yanto ketika ditemui di lokasi kerjanya akhir pekan ini.

Setiap hari, terkecuali Minggu malam, musik dangdut pasti akan digelar di sana. Orkes melayu pengiringnya pun sudah terjadwal secara pasti.

Hari Senin akan diisi oleh orkes melayu Bolodewo, Selasa Om Zarima, Rabu Om Padmaradja, Kamis oleh Gilas OBB, Jumat Mahardika, sedangkan Sabtu berganti-ganti grup orkes.

Yanto mengatakan, setidaknya enam artis atau bahkan lebih, akan pentas untuk menghibur para penonton setiap malamnya. Live dangdut akan dimulai pukul 21.00 hingga 23.45.

Terkait dengan artis yang manggung, Yanto menegaskan bila yang terpenting adalah menjaga kesopanan. Ia menyadari bila sebagian masyarakat menganggap musik dangdut itu seronok.

Oleh karena itu untuk menghilangkan citra tersebut, artis yang tampil di XT harus berpakaian sopan, tidak merokok dan tak meminum minuman keras. Kebijakan itu ia terapkan setelah pindah ke XT Square.

"Kalau di luar terbuka saya tidak tahu. Yang jelas di sini tidak boleh. Di kesepakatan awal sudah tertulis. Kalau melanggar diskors. Dulu ada yang diskors empat bulan," tambahnya.

Ia mengakui bila kebijakan untuk tampil sopan tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah penonton, terutama di tahun 2016. Namun menurut Yanto itu tak masalah, karena ia ingin membangun citra dangdut agar lebih baik.

Selain itu, ia juga ingin orang yang datang ke XT Square benar-benar menikmati musik dangdut, bukan karena artisnya yang berpakaian seksi.

"Karena kalau seronok akibatnya juga tidak akan baik," tegasnya. (*)

Komunitas kamu punya cerita lainnya, dan ingin berbagi dengan pembaca Tribun Jogja? Silakan kirim melalui tautan ini  http://www.messenger.com/t/tribunjogjafanspage

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved