Film Tentang Wiji Thukul Diputar di Singapura
Sosok sederhana penyair dan aktivis yang hilang di akhir tahun 90an ini telah menginspirasi banyak kalangan, termasuk para sineas.
Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
Sisi Lain Cerita Keluarga Wiji Thukul
NAMA Wiji Thukul sudah melegenda dan menjadi ikon perlawanan terhadap rezim Orde Baru.
Sosok sederhana penyair dan aktivis yang hilang di akhir tahun 90an ini telah menginspirasi banyak kalangan, termasuk para sineas.
Sutradara Eden Junjung dari Yogyakarta membuat film pendek berjudul ‘Bunga Dan Tembok’.
Film ini menceritakan sisi lain dari keluarga Wiji Thukul, yakni perjalanan Dyah Sujirah (istri Wiji Thukul) dan Fajar Merah anaknya ketika mengurus surat kematian Wiji Thukul.
Peristiwa yang dialami oleh Dyah dan Fajar dalam film ini mungkin terasa singkat, atau bahkan sederhana bagi sebagian orang. T
api tidak bagi mereka yang menjadi keluarga korban penghilangan paksa.
Sebagai sebuah film yang diilhami dari kisah nyata, film ini menjadi sebuah upaya reflektif dari sutradara untuk menjahit sejarah, fakta serta metafora yang kontekstual dengan kondisi Indonesia saat ini.
Film yang dibintangi oleh Erythrina Baskoro dan juga Landung Simatupang ini menyuguhkan anomali yang terjadi di negeri ini akan status korban penghilangan paksa melalui sudut pandang keluarga korban.
Sejak peristiwa hilangnya Wiji Thukul, keluarganya percaya bahwa Wiji Thukul sebenarnya masih hidup.
Himpitan ekonomi yang memaksa mereka membuat surat kematian Wiji Thukul demi urusan administrasi pinjaman bank kemudian menjadi ironi, karena ekspektasi yang selama ini mereka hidupi dengan harapan akhirnya mereka hancurkan sendiri demi urusan perut.
‘Bunga Dan Tembok / Flowers In The Wall’ berkesempatan untuk bertemu penonton di Singapura.
Pada 8 Oktober 2016 lalu berlokasi di Malay Heritage Center Singapura, film ini diundang oleh National University Singapore dalam forum “Bahasa Thukul dan Wiji Melawan”.
Pada forum ini hadir juga Ahmad Anfasul Marom selaku Executive Producer dan Fajar Merah, putera bungsu Wiji Thukul yang menampilkan lagu lagu yang dia buat dari puisi ayahnya.
Film yang diproduksi oleh Elora Production ini diundang khusus oleh National University Singapore (NUS) untuk memperkenalkan lebih jauh wacana sastra Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wiji-thukul_fdg_20161018_134346.jpg)