Hanging dan Swinging ala Hammockers

Komunitas Hammockers Regional DIY mengedukasi pengguna untuk menggunakan hammock dengan benar dan aman.

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Ist
Komunitas Hammockers Regional DIY 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hammock yang semula diperuntukkan sebagai kantong tidur pecinta alam, kini mulai berkembang pada fungsi eksistensi.

Di tengah gempuran tren yang ada, Komunitas Hammockers Regional DIY mengedukasi pengguna untuk menggunakan hammock dengan benar dan aman.

Awalnya, Hammock dikenal sebagai tempat tidur suku Amerika Selatan. Hammock umumnya berupa selembar kain berbentuk persegi yang memiliki tali di ujungnya.

Untuk menghindari binatang buas, biasanya hammock ini dipasang di antara dua pohon. Memanfaatkan gravitasi bumi, pengguna dapat tidur sekaligus swinging di dalam hammock.

Seiring berkembangnya jaman, hammock mulai bertransformasi ke beberapa bentuk menyesuaikan kebutuhan penggunanya.

Inovasi hammock kini sudah mulai beragam, mulai dari hammock berbentuk segitiga yang diikatkan pada tiga pohon, hingga hammock tent yang merupakan gabungan dari hammock dan tenda.

”Kemudian para pecinta alam mulai mengenalkan kemping yang tidak ribet, tidak perlu mendirikan tenda, tanpa meninggalkan sampah dengan menggunakan hammock. Awalnya hammock menjadi barang pelengkap mereka, namun kini menjadi barang yang wajib dibawa,” ujar Anggota Hammockers Regional DIY, Ikram Tahir (26) beberapa waktu lalu.

Trend pecinta alam ini rupanya mulai dilirik oleh beberapa kalangan. Bikers misalnya, kini mereka sudah melengkapi perlengkapannya dengan hammock, dan tidak lagi menyewa hotel untuk beristirahat.

Trend ini kemudian melahirkan sebuah wadah pecinta hammock di Indonesia yang kemudian berkumpul mengadakan gathering di Cikole, Bandung.

Dari pertemuan tersebut tercetuslah untuk membuat komunitas di regional masing-masing, kemudian Hammockers Regional DIY terbentuk pada pertengahan 2015.

Pada tahun keduanya, komunitas ini memiliki 30 sampai 40an anggota aktif yang kerap melakukan sharing dan kegiatan outdoor. Berbasis media sosial Instagram, komunitas ini memiliki keanggotaan yang terbuka dan bersifat kekeluargaan.

Anggotanya datang dari berbagai kalangan, antara lain pelajar SMA, mahasiswa, karyawan, hingga anggota paling tua berumur 35-40an tahun.

Tidak semua dari mereka merupakan pecinta alam, bahkan mayoritas merupakan orang awam yang tidak tahu apa-apa mengenai hammock, namun penasaran dengan konsep ayunan ini.

”Pada dasarnya Hammock ini hanya sarana pindah tidur, hanging dan swinging. Dengan adanya komunitas, kita bisa belajar bareng mengenai hammock yang proporosional, mempelajari jenis dan bagian-bagian hamock, sharing bagaimana caranya hammocking yang nyaman di alam terbuka,” papar Ikram.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved