Museum Didorong untuk Lebih Interaktif
Jam operasional museum menjadi tantangan tersendiri bagi kegiatan komunitas Yogyakarta Night at The Museum.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jam operasional museum menjadi tantangan tersendiri bagi kegiatan komunitas Yogyakarta Night at The Museum.
Di Yogyakarta sendiri, tercatat baru ada enam museum yang buka pada malam hari, di antaranya Museum Benteng Vrederburg, Museum Anak Kolong Tangga, Musuem Sandi, Museum Sonobudoyo, Museum Monumen Jogja Kembali, dan Museum TNI AU.
Dengan museum-museum tersebut, komunitas ini harus kreatif dalam merancang tema yang berbeda dan menarik meskipun lokasinya tetap sama.
Misalnya di Museum Vrederburg, pengunjung bisa mengupas bangunannya atau sejarah Bung Karno selama berada di Yogyakarta.
”Museum-museum di Yogyakarta juga dimiliki oleh beberapa pihak, ada yang milik pemerintah, swasta, yayasan maupun instansi lain.
Mereka juga memiliki problem masing-masing jika membuka museumnya hingga malam hari, di antaranya membiayai lembur pegawai atau kekhawatiran koleksinya akan hilang,” ungkap Ketua Yogyakarta Night at The Museum, Erwin Djuaidi (24).
Selain itu, museum juga harus merubah mindsetnya dari object oriented ke public oriented dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat saat ini.
Menurut Erwin, rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke museum juga dilatar belakangi karena pengunjung tidak bisa berinteraksi dengan apa yang ia lihat.
Berbeda dengan mall dimana kita bebas memegang banyak barang, pengunjung tidak boleh memegang koleksi-koleksi museum.
”Untuk memahami kebutuhan ini, museum bisa menyediakan miniatur atau LCD yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menyentuh objek-objek di museum,” sarannya.
Pelayanan yang ramah dan fasilitas yang nyaman tentunya menjadi poin plus sendiri bagi sebuah museum. Sudah bukan jamannya saat ini museum terlihat usang, toilet kotor maupun pegawai tidak ramah.
Tanpa mengurangi esensi objek di dalamnya, museum diharapkan melengkapi dirinya dengan tempat duduk, tempat nongkrong hingga wifi.
”Keberadaan kami berusaha mengenalkan ragam objek sejarah ke masyarakat. Karena dengan mengenal, maka akan muncul sense melindungi benda tersebut. Sehingga jika ada koleksi museum yang hilang, masyarakat bisa mengenalnya, menceritakan dan akhirnya akan ada kepedulian terhadap objek tersebut,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/komunitas-yogyakarta-night-at-the-museum_20160928_212305.jpg)