Selama Pernikahan Adat Jawa Masih Ada, Usaha Selop Akan Terus Bertahan

Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 75 ribu hingga 250 ribu, tergantung bahan dan tingkat kesulitannya.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Santo Ari
Satu-satunya perajin selop di kecamatan Kraton, tepatnya di Mangunnegaran, KT II nomor 638 adalah Joko Semedi (49). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebudayaan Jawa erat kaitannya dengan pakaian tradisional, seperti blangkon, surjan, keris, jarik, hingga alas kaki yang bisa disebut selop.

Untuk selop sendiri tak banyak perajin yang menekuninya.

Satu-satunya perajin selop di kecamatan Kraton, tepatnya di Mangunnegaran, KT II nomor 638 adalah Joko Semedi (49).

Ia mewarisi usaha pembuatan selop ini dari kedua orangtuanya yang merintis sejak tahun 1950-an.

Joko nama panggilannya, saat ditemui di rumah sekaligus bengkel produksi pembuatan selop miliknya, mengatakan sejak kecil ia dihadapkan oleh aktivitas membuat selo yang dilakukan oleh ayahnya yang bernama Cipto Suwarno.

"Saya bisa karena autodidak melihat bapak kerja," ungkapnya.

Ia mulai serius bergelut meneruskan usaha tersebut pada tahun 2006. Setelah ibunya meninggal, ia merasa berkewajiban meneruskan usaha keluarga ini.

Spesialisnya adalah selop, namun dibantu istri dan empat orang karyawan lainnya ia mampu membuat aneka jenis alas kaki, seperti sandal, sepatu hak tinggi, hingga sepatu bot.

"Kami khusus membuat selop manten. Pernah membuat macam-macam alas kaki, tapi selop yang sampai sekarang masih dicari. Sepanjang masih ada manten dengan cara tradisi, maka usaha ini akan terus berjalan," tukasnya.

Ia mengakui bahwa harga selop buatanya lebih mahal dari yang diedarkan di pasar.

Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 75 ribu hingga 250 ribu, tergantung bahan dan tingkat kesulitannya.

Namun hal itu tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Bahkan tahun kemarin ia pernah mengerjakan 2000 pasang selop.

Namun demikian, ia tak hanya menerima pesananan selop saja, bahkan kebanyakan sepatu hak tinggi milik perempuanlah yang sering ia garap.

Ia menilai hal itu lantaran sifat perempuan yang konsumtif dan ingin membeli beberapa pasang sekaligus sekali transaksi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved