Indonesia Perlu PLTN, Namun Butuh Kebijakan Berkesinambungan

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) jauh lebih penting dan bermanfaat bagi masyarakat luas jika dihubungkan dengan kebutuhan listrik.

Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM | Bramasto Adhy
listrik 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tenaga nuklir dipandang sebagai solusi terbaik untuk mencapai target pemenuhan energi listrik 35 ribu megawatt (MW) seperti diinginkan Presiden Joko Widodo.

Hanya saja, belum ada komitmen nasional dan dukungan regulasi untuk mendorong terwujudnya sumber energi tersebut di Indonesia.

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Hari Purnomo menilai keputusan membangun jalur kereta cepat oleh pemerintah adalah salah langkah.

Justru menurutnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) jauh lebih penting dan bermanfaat bagi masyarakat luas jika dihubungkan dengan kebutuhan energi listrik yang cenderung terus meningkat deras setiap tahunnya.

Hanya saja, hal itu sulit terwujud mengingat belum ada izin pemerintah untuk pembangunannya.

"Seharusnya ada spirit politik untuk memulai segera pembangunan PLTN. Hanya saja, pimpinan kita belum bisa memanfaatkan momentum untuk membangun PLTN," kata Hari saat agenda kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yogyakarta, Rabu (14/9/2016).

Disebutkannya, DPR mendukung sepenuhnya pembangunan PLTN untuk mencapai target energi nasional dan diharapkan dukungan serupa juga datang dari pemerintah.

Ia berharap pemerintah segera merevisi prioritas pembangunan yang bertumpu pada perbaikan dan pemenuhan energi listrik dengan mendirikan PLTN berkapasitas besar.

"Berhutang untuk bikin kereta cepat saja berani, kenapa tidak berani ngutang bangun PLTN supaya target energi nasional tercapai?" tanyanya.

Ditambahkan Anggota Komisi VII lainnya, Kurtubi, pembangunan PLTN akan mampu meningkatkan jumlah lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Imbasnya, terjadi akselerasi perekonomian negara. Menurutnya, perekonomian Indonesia kepayahan untuk maju selama kondisi pemenuhan energi listriknya masih kecil.

"Semua negara maju sudah pakai energi nuklir untuk listriknya. Bahkan, negara seperti Vietnam dan Banglades yang ekonominya di bawah kita juga sudah pakai nuklir, masak kita belum? Kita tidak akan pernah bisa mengejar Malaysia jika kondisi listrik kita masih begini," katanya.

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN, Djarot Sulistyo Wisnubroto mengatakan, Indonesia sebetulnya sudah sangat mampu mengoperasikan PLTN secara baik.

Ini bisa dilihat dari nihilnya angka kejadian kecelakaan meski saat ini ada tiga reaktor nuklir aktif yang dikelola BATAN. Yakni, di Yogyakarta, Serpong, dan Bandung.

Dari sisi potensi sumber daya, beberapa daerah disebutnya juga cukup kaya bahan utama reaktor nuklir yakni uranium dan thorium. Potensi uranium sebanyak 74 ribu ton tersimpan di alam Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat.

Namun demikian, ia menyebut, jalan yang harus dilalui untuk mewujudkan PLTN masih sangat panjang.

Apalagi, belum ada peraturan perundangan yang mengizinkan eksploitasi bahan nuklir itu secara komersial sehingga investor tidak bisa masuk menanamkan modal.

"Siklus politik lima tahunan tentu jadi tantangan tersendiri ke depannya. Misal, bagaimana kepala daerah membuat kebijakan," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved