LIPSUS: Merugi, Peternak Ayam Banting Setir Profesi Hingga Jual Kandang
Banyak peternak mandiri yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan besar.
Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bisnis daging ayam di pasar Indonesia jumlahnya cukup besar, yakni Rp 450 triliun per tahun.
Data yang dihimpun Tribun Jogja, untuk DIY perputaran DOC (day old chick) adalah 5 juta ekor per minggu. Sementara itu untuk kebutuhan per hari di DIY adalah 120 ribu ekor.
Hari Wibowo, Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) menjelaskan, jumlah peternak mandiri di DIY jumlahnya berkisar 400 peternak.
Sementara itu total ada sekitar 800 peternak termasuk peternak yang terintegrasi perusahaan besar.
Menurutnya banyak peternak mandiri yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan besar.
"Ada yang sudah gulung tikar dan sekarang beralih ke bisnis lain, seperti jual beli mobil, karena peternakannya bangkrut," ujar Hari.
Menurut Hari, di saat peternak terus merugi dan tidak mendapatkan untung bisa saja peternak akan semakin sedikit.
Nantinya peternakan hanya akan dikuasai oleh perusahaan‑perusahaan besar terintegrasi saja, persaingan antar perusahaan besar yang akan terjadi.
"Sekarang kalau di posisi aman tidak saling membunuh, begitu dempet‑dempetan, mereka ingin hidup terus, yang mati kita. Mereka (perusahaan terintegrasi) mengambil peternak saya, saya membina peternak dari kecil dan berkembang, begitu besar dia diambil ditawari, itukan dah gak fair, gak sehat," ujarnya.
Sementara itu dari informasi yang didapatkan Tribun Jogja, ada beberapa peternak mandiri yang sudah mengeluarkan modal besar, namun tidak berdaya dengan gempuran perusahaan besar.
Meski sudah mengeluarkan modal sekian miliar, usahanya tidak bisa berkembang.
Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan bahwa meski nilai valuasi daging ayam di Indonesia tinggi yakni Rp 450 T, namun itu hanya dikuasai oleh perusahaan besar tertentu.
Peternak yang menjadi plasma di perusahaan tersebut hanya seolah menjadi buruh di negeri sendiri.
Menurutnya banyak peternak yang merugi, dan biasanya akan menyewakan atau menjual kandang mereka. Namun disaat harga sudah membaik, peternak rakyat akan kembali terjun di dunia peternakan. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-ayam_20160913_215621.jpg)