Hidayat Tujuh Hari Merasakan Dinginnya Lantai Penjara Filipina
Calon haji pria harus berada di sel sempit yang diisi oleh delapan orang. Sedangkan calon haji perempuan berada di ruang sidang.
Penulis: app | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selama tujuh hari mendekam di penjara imigrasi Filipina, Hidayat dan Titik harus merasakan dinginnya lantai penjara. Jangankan kasur, sekedar tikar sebagai alas pun juga tak ada.
"Penjahat bukan, koruptor juga bukan, tapi harus dipenjara," keluhnya, Rabu (7/9/2016).
Calon haji pria harus berada di sel sempit yang diisi oleh delapan orang. Sedangkan calon haji perempuan berada di ruang sidang.
[baca: Kisah Jemaah Calon Haji Bantul yang Ditahan Filipina: Setor Rp300 Juta dan Sempat Emoh Berangkat]
Pada hari pertama di penjara, Hidayat mengaku tidak mendapat makan. Baru pada hari kedua para calon haji tersebut mendapat makan. Apalagi, setelah KBRI mengetahui keberadaan warga negara Indonesia, jatah makan sudah dengan lauk yang lebih baik.
"Saya kasian melihat yang sudah berusia 70 tahun harus tidur di tempat seperti itu. Ada juga beberapa yang sempat sakit," kisahnya.
Meski begitu, Hidayat menuturkan bahwa perlakuan pihak Filipina selama di penjara tergolong baik.
[baca: Hidayat yang Jadi Korban Agen Travel Ini Berharap Tahun Depan Berangkat Haji]
Sebelumnya dilaporkan, nasib malang menimpa Hidayat Azis (56), dan Titik Sayekti (52).
Pasangan suami istri asal Sudimoro Rt 03, Timbulharjo, Sewon, Bantul tersebut menjadi bagian dari 177 calon haji yang sempat ditahan pihak imigrasi Filipina terkait masalah kepemilikan paspor Filipina. Hidayat dan Titik pun gagal menunaikan ibadah haji.
"Saya daftar haji sesuai prosedur lewat agen travel haji yang terpercaya di Palembang. Kakak saya dan karyawannya sebelumnya menggunakan jasa agen tersebut," jelas Hidayat saat ditemui di rumahnya di Sewon, Bantul.
Hidayat mengaku, ia dan istrinya merupakan korban dari agen tavel. Oleh karena itu, Hidayat menolak jika disebut haji ilegal. Apalagi, ia sudah mendaftarkan haji sejak tahun 2014 lalu dengan biaya mencapai Rp 300 juta. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/korban-agen-travel_20160907_204442.jpg)