Tabrakan Kijang vs Truk Trailler di Probolinggo, Enam Orang Tewas
Kecelakaan terjadi melibatkan mobil penumpang Kijang LGX dengan truk head (trailer).
TRIBUNJOGJA.COM - Kecelakaan maut terjadi di ruas jalan Pasuruan ke arah Probolinggo, Sabtu (3/9/2016) sore.
Kecelakaan terjadi melibatkan mobil penumpang Kijang LGX dengan truk head (trailer).
Enam orang tewas dalam kecelakaan tersebut.
Berdasarkan penjelasan AKP Bambang Sugiharto, Kasat Lantas Polres Probolinggo, kecelakaan berawal dari mobil Kijang LGX dengan plat nomor P 857 VH yang dikendarai oleh Margono (63) warga desa Garahan, Silo salatiga, melaju dari arah Probolinggo menuju Lumajang.
Selain sopir, kendaraan ini membawa enam orang penumpang.
Masuk di jalan raya desa Malasan, tiba-tiba kendaraan oleng ke kanan.
Naas, dari arah berlawan sebuah truk trailer dengan nomor L 8022 UF yang dikendarai oleh Arip Mustopa, warga desa Karang Winongan, Mojoagung, Jombang.
"Karena kedua kendaran sudah sengat dekat, tabrakan pun tak bisa terhindarkan," jelas AKP Bambang kepada Surya.
Tabrakan keras pun terjadi di antara keduanya. Karena diduga kedua kendaraan dalam kecepatan tinggi, mobil Kijang bahkan sampai berputar arah pasca tabrakan.
"Jadi mobil sampai berputar 360 derajat dengan menghadap arah Probolinggo," lanjut AKP Bambang kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Akibatnya, enam dari tujuh penumpang termasuk sopir Kijang LGX meninggal dunia.
Identitas korban tewas tersebut antara lain (1) Margono (63) warga desa garahan, Silo Salatiga, (2) Desi wulandari (38) warga desa Garahan, Silo Salatiga, (3) Wibisono (71) warga desa Plalangan, Kalisat, Jember, (4) Umi kulsum trisyawati (49) warga Plalangan, Kalisat, Jember, (5) Busriyanto (35) warga Desa Botolinggo, Bondowoso, dan (6) seorang balita berkelamin perempuan berusia dua tahun.
Sedangkan satu-satunya korban selamat adalah balita berusia empat tahun berjenis kelamin laki-laki dalam kondisi tidak sadar. Balita tersebut kini dirawat di RS terdekat.
Bambang memperkirakan, olengnya kendaraan tersebut berawal dari niat untuk mendahului.
Sayangnya, sang sopir tak menghiraukan laju kendaran di depannya. Selain itu, keberanian Margono untuk menyalip juga disebabkan karena garis jalan di TKP yang terputus.
"Seharusnya garisnya bersambung, sehingga tak berani untuk menyalip. Sebab, tidak jauh dari TKP juga ada tikungan," jelasnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
elain itu, minimnya rambu lalu lintas di sekitar TKP ditambah sempitnya ruas jalan juga diduga membuat pengendara semakin kesulitan. Belum lagi dengan tak adanya lampu penerangan.
"Kalau malam, gelap sudah. Sebab, lampu di sini memang tidak ada. Padahal di sini cukup ramai," ujar AKP Bambang. (*)