PA X: Biarkan Sayur Gude Hitam dan Geblek Tetap Kecut

Paku Alam X dalam kesempatan tersebut juga berpesan agar tetap mempertahankan kekhasan makanan tradisional dari DIY.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatul hidayah
Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X saat melihat aneka masakan yang dibuat dari sumber pangan lokal, di Gedung BKPP DIY, Jumat (2/9/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberagaman pangan bisa diwujudkan dengan penggunaan sumber daya lokal, misalnya mengganti tepung gandum yang didapat melalui kebijakan impor, dengan tepung singkong yang bisa diproduksi dalam negeri.

Hal dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, khususnya di DIY.

Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X menilai, bahwa keberagaman pangan di DIY sudah cukup tinggi.

Hal tersebut dilihat dari banyaknya masyarakat yang kesehariannya tidak mengonsumsi nasi, namun juga mau sarapan dengan ubi, singkong, grontol, dan sebagainya.

"Ini yang banyak nggak doyan sebenarnya anak muda. Mereka harus diedeukasi. Kearifan lokal di DIY tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian, ini menjadi tanggung jawab bersama," ucapnya di sela-sela kegiatan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXVI di DIY, di Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, Jumat (2/9).

Paku Alam X dalam kesempatan tersebut juga berpesan agar tetap mempertahankan kekhasan makanan tradisional dari DIY.

Misalkan saja dari Gunungkidul ada Sayur Gude dengan warnanya yang hitam dan juga Makanan khas Kulonprogo yakni geblek dengan cita rasanya yang sedikit kecut karena bahan dasar singkong.

"Jangan sampai ada geblek rasa duren. Kalaupun ada, yang rasa aslinya jangan sampai hilang. Harus tetap dipertahankan," tegasnya.

Kepala BKPP DIY, Arofa Noor Indriani mengatakan pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan individu. Termasuk dengan tidak menggantungkan kebutuhan pokok dengan mengonsumsi nasi.

"Keberagaman pangan harus ditingkatkan, dalam hal ini memanfaatkan bahan lokal. Misalkan buah, sayur, protein hewani, kacang-kacangan, serta umbi-umbian," jelasnya.

Terkait posisi DIY yang dianggap mampu memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya lokal, Arofa ingin melakukannya secara bermartabat.

Satu di antaranya adalah dengan menggelar lomba cipta menu yang memanfaatkan bahan lokal.

"Pemanfaatan bahan lokal digunakan untuk mengurangi konsumsi terigu, gandum, termasuk mengurangi konsumsi beras. Kita memaksimalkan kearifan lokal misalkan kita bikin tepung pisang, tepung singkong, tepung ubi jalar, dan sebagainya. Dulunya umbi-umbian dianggap inferior, sekarang superior," ungkapnya.

Mantan BKPP DIY, Asikin Chalifah mengatakan bahwa kunci ketahanan pangan yang kuat didasari ketersediaan dan pasokan yang kuat.

"Harus mengutamakan produksi dan produktivitas pangan strategis. Tapi hampir semua pangan strategis, kita mengimpor. Berarti ada kebijakan yang kurang tepat," tandasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved