Plate O Berusaha Jadi Pionir Kuliner

Jika dulu industri kuliner berkaca pada kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, kini inovasi bisa datang dengan lebih global.

Tayang:
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
tribunjogja/gaya lufityanti
Salah satu menu di Plate O Jogja. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terjun ke industri kuliner di Yogyakarta, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik Plate O Jogja, Eko Chandra. Menurutnya, setiap pelaku kuliner harus memiliki trik jitu untuk bertahan di persaingan bisnis ini.

Maraknya bisnis kuliner di Yogyakarta, memaksa pelaku kuliner untuk memperebutkan kue segmen yang sama. Terlebih jika menu yang ditawarkan merupakan menu moderen, otomatis segmen mahasiswa menjadi target pasar yang sempit.

Untuk tetap diperhitungkan dalam persaingan tersebut, inovasi menjadi hal yang mutlak.

"Mending sedikit lebih beda daripada sedikit lebih baik. Karena sekarang ini orang lebih mencari menu yang beda dibanding mencari menu yang enak," ungkap Eko pada Kamis (18/8/2016).

Teknologi informasi pun membuka peluang inovasi ini. Jika dulu industri kuliner berkaca pada kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, kini inovasi bisa datang dengan lebih global.

Oleh karenanya, Plate O Jogja justru menerapkan inovasi dari luar negeri semisal Jepang dan Korea untuk inovasi produknya.

"Tidak harus yang sedang tren, asal di sini belum ada, langsung cepet-cepetan nerapin agar jadi pionir. Karena dengan jadi pionir, mindset orang akan ke sini lagi," katanya.

Segmen mahasiswa juga menantang pelaku kuliner untuk membuat pricing yang tepat. Terlebih, sudah ada pemikiran umum di masyarakat Yogyakarta bahwa makanan di atas harga Rp 30 ribu sudah dianggap makanan mahal.

Mindset itu memaksa pengusaha untuk benar-benar menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) serta mencari bahan baku makanan terbaik dengan harga termurah.

"Plate O Jogja sendiri menyediakan beragam menu dengan harga mulai Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu. Kami juga berusaha menjual nilai plus dalam menu-menu ini," imbuhnya.

Media sosial pun masih menjadi sarana promosi yang efektif bagi warung kuliner yang berdiri sejak Maret 2016 kemarin. Selain menginformasikan menu-menu dan program-nya,

Plate O Jogja sebisa mungkin berinteraksi dengan audiens. Satu caranya adalah menjawab pertanyaan yang dilontarkan pengguna media sosial.

"Dari awal kami sudah layani pelanggan, juga mendengar maunya pelanggan, dan rata-rata pelanggan kembali terus. Kami juga senang jika ada pelanggan yang memberi feedback," sambungnya.

Kesuksesan ini mendorong Plate O Jogja untuk membuka outlet di Yogyakarta dan di luar Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri, Eko menargetkan akan menambah satu outlet. Sedangkan outlet di luar kota, dirinya berencana merealisasikannya akhir 2016 ini.

"Kami sudah survei ke kota tersebut, dan melakukan observasi mengenai apakah media sosial yang aktif, serta promosi apa yang biasa dilakukan. Pada dasarnya apa saja bisa dijual dimanapun, saya tidak memikirkan produk akan laris atau tidak, asalkan cara menjualnya benar," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved