Kenaikan Harga Rokok Dianggap Langkah Win-win Solution

Sementara menurut Southeast Asia Tobbaco Control Alliance 521 orang meninggal per hari akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Penulis: dnh | Editor: oda

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Isu kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus mengundang pro dan kontra di masyarakat. Hal tersebut juga menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Fauzi Ahmad Noor, Peneliti sekaligus aktivis Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau berpendapat bahwa naiknya harga rokok menjadi sebuah win-win solution. Menurutnya jika harga dan cukai rokok naik maka akan menyelamatkan bangsa dan negara dari bahaya rokok.

Berdasar data Global Youth Tobacco Survey tahun 2012 rata-rata perokok pemula mulai merokok pada umur 16 tahun. Sementara dalam Global Adult Tobacco Survey 2014 perokok laki-laki di Indonesia jumlahnya adalah yan terbanyak di Asean.

Dengan rata-rata batang rokok yang dihisap oleh satu orang adalah 1.115 batang rokok. Sementara menurut Southeast Asia Tobbaco Control Alliance 521 orang meninggal per hari akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. Ini tertinggi di Asean.

"Filosofi cukai adalah instrumen pengendalian barang yang berdampak buruk bagi rakyat dan lingkungan atau bisa disebut pajak dosa," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun Jogja, Senin (22/8/2016).

Menurutnya dana cukai yang terkumpul bisa digunakan untuk menanggulangi dampak buruk dan pengendalian rokok semisal digunakan untuk peningkatan fasilitas kesehatan untuk korban akibat rokok.

Serta peningkatan ekonomi buruh pabrik rokok dan petani tembakau dalam peningkatan usaha ekonomi lain selain dari sektor pertanian tembakau. Pendapatan negara pun akan naik dari sektor cukai.

Selain itu menurutnya ketakutan akan banyaknya pabrik yang tutup dan memPHK karyawan serta buruh rokok adalah sebuah kekawatiran yang berlebihan dan tidak mendasar.

Menurutnya justru sekarang banyak pabrik rokok besar di Indonesia yang sudah mem PHK karyawannya dan buruh karena sudah ada mesin yang menggantikan.

"Perlu juga alokasi anggaran cukai digunakan untuk penelitian kesehatan dan pemanfaatan tembakau untuk produk lain selain rokok seperti insulin, anti virus, anti kanker biofuel dan lainnya," katanya.

"Selain mengatasi masalah buruh dan petani dan menekan angka perokok pemula tentu saja Pemerintah harus perketat sistem pengawasan illicit trade atau perdagangan illegal rokok seperti yang berhasil dilakukan di Filiphina," lanjutnya.

Rokok di Indonesia disebutkan Fauzi sebagai yang paling murah dan sangat terjangkau, karena setiap tahun ada kenaikan pendapatan per kapita. Hal ini pula yang menjadikannya banyak perokok pemula di Indonesia.

Kenaikan harga rokok dirasa akan membuat daya beli rokok menurun dan bisa dialihkan ke konsumsi lain semisal telur dan susu, serta kebutuhan yang lain yang lebih bermanfaat.

Sebelumnya, dr Sumardi Sp.PD (K) yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam, konsultan paru (KP) senior RSUP Dr Sardjito memprediksi akan ada ledakan jumlah penyakit yang diakibatkan rokok.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved