Merokok Bukan Hal Wajar

Iklan baliho rokok memberikan kontribusi besar bagi pemuda untuk merokok. Selain melalui televisi.

Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan

SECARA makro, banyak indikasi terkait dengan perkembangan tren perokok di DIY. Pertama lemahnya regulasi terkait dengan iklan rokok.

Iklan rokok gencar dilakukan ketika ada PP No 109 tahun 2012 ditetapkan di mana tidak boleh ada baliho besar di jalan jalan utama kabupaten dan kota, tetapi masih ada pelanggaran dan kekurang tegasan pemerintah.

Iklan baliho rokok memberikan kontribusi besar bagi pemuda untuk merokok. Selain melalui televisi.

Itu yang pernah kami teliti di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bantul pada tahun 2011.

Ternyata dengan adanya baliho tersebut, sangat berpengaruh. Yang dulu pernah merokok ternyata ingin mencoba untuk merokok kembali.

Sementara yang sudah merokok mereka ingin terus eksis. Sedangkan yang belum pernah merokok mereka ingin merokok dan coba-coba.

Dengan adanya iklan, pemahaman sudah dibawa ke alam bawah sadar dari pesan iklan tersebut.

Pada akhirnya merokok dilihat sebagai sebuah hal yang biasa saja. Jadi semacam harus melakukan denormalisasi, bahwa merokok itu bukan hal yang wajar.

Saat ini rokok sudah menjadi bagian dari kehidupan, membeli rokok dirasa sama dengan membeli beras, dan kebutuhan lain.

Sehingga rokok sudah menjadi semacam kebutuhan. Ada juga semacam salah kaprah bahwa merokok menjadi sebuah budaya.

Padahal budaya itu sendiri adalah sesuatu yang adi luhung dan memiliki nilai nilai, seperti nilai positif dan kehidupan. Rokok sendiri nilai positif dan manfaatnya tidak lebih besar dari Mudaratnya.

Bahwa kemudian orang melihat ini menjadi budaya, merokok sebenarnya bukan warisan nenek moyang, karena dulu rokok dibawa oleh penjajah yang datang.

Kemudian oleh penjajah masyarakat disuruh untuk menanam tembakau.

Sebelumnya mereka tidak mengenal tembakau. Jaman Majapahit dan jaman Mataram kuno belum ada, karena merokok belum ada dan ada sekitar 1800an, penjajah dari Eropa mereka yang membawa itu.

Memang merokok dianggap bisa menambah keuangan negara dengan cukai, tetapi untuk mengobati karena dampak rokok, akan lebih besar. Dari penelitian perokok itu kebanyakan dari keluarga menengah kebawah.

Karena pemahaman mereka terkait dengan bahaya rokok masih renda. Juga terkait dengan kesadaran, karena kondisi ekonomi akan berpengaruh terhadap pola berpikir orang.

Namun saat ini sudah mulai ada pergeseran dan kesadaran masyarakat mulai timbul. (*)

*Oleh: Fauzi Ahmad Noor, Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved