Wirependant Rangsang Saraf Motorik Halus
Dalam Workshop Wirependant yang digelar di Tirana House, Modesta Dersonowati berbagi ilmu tentang teknik-teknik wirependent.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selain membutuhkan kreatifitas, wirependant ini menuntut kreatornya untuk memiliki kedetilan terhadap produk. Tipisnya kawat yang digunakan tentunya menghadirkan tantangan tersendiri bagi kreatornya.
"Karena kawat merupakan bahan yang tipis, wirependant ini merangsang saraf motorik kreatornya. Sehingga jika sudah capek, lebih baik istirahat saja," jelas pemilik brand SaNes Heartmade of Artcessories, Modesta Dersonowati.
Dalam Workshop Wirependant yang digelar di Tirana House pada Kamis (4/8/2016) lalu, Modesta Dersonowati berbagi ilmu tentang teknik-teknik wirependent.
Pertama-tama, kawat harus dibakar kemudian direndam menggunakan bahan citrus selama sehari semalam. Proses ini dilakukan untuk menghilangkan enamel dari tembaga.
Kemudian kreator harus berimajinasi dengan mendesain bentuk yang diinginkan. Setelah berkreasi dengan ragam teknik dan kombinasi batu, wirependant direndam dalam cairan liver of sulfur untuk munculkan warna etnik.
Perendaman ini tidak akan berpengaruh pada warna batu asalkan batu yang digunakan adalah batu alam asli. Perendaman juga dilakukan sesuai keinginan kreator, seberapa hitam warna yang diinginkan pada jewellery tersebut.
"Terakhir untuk finishing, bisa menerapkan coating agar warna tidak pudar," imbuhnya.
Bahan-bahan ini, biasanya ia dapatkan melalui pembelian online. Minimnya penjual bahan di Yogyakarta, membuat ia kesulitan mendapatkan bahan berkualitas dengan harga yang terjangkau.
"Mungkin karena peminat dan krafternya masih sedikit di Yogyakarta, sehingga bahan-bahannya sulit didapat," tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/vintage-wirependant-2_20160814_143236.jpg)