Bos Tiket.com Memilih Hidup Susah di Indonesia Ketimbang di Kanada

Ada pula orang indonesia asli yang sudah mendapatkan izin menetap di sebuah negara maju, akhirnya memilih pulang ke Indonesia.

Tayang:
Penulis: gil | Editor: oda
tribunjogja/gilang rabbani
Gaery Undarsa saat berbagi pengalamannya membangun bisnis startup Tiket.com kepada para blogger di Yogyakarta pada Sabtu (13/8/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM - Banyak orang Indonesia ingin sekali bisa tinggal di luar negeri, menikmati negara maju dengan fasilitas serba ada dan penuh kemudahan.

Tapi ada pula orang indonesia asli yang sudah mendapatkan izin menetap di sebuah negara maju, akhirnya memilih pulang ke Indonesia hanya karena mendengar nyanyian lagu Indonesia Raya berkumandang.

Gaery Undarsa adalah seorang pebisnis yang baru menetap di Indonesia lima tahun terakhir ini. Salah satu penemun Tiket.com tersebut telah lama meninggalkan Indonesia. Sebelumnya, Ia sudah menetap dan hidup enak di Kanada.

Semua berawal saat dirinya berangkat menimba ilmu di Kanada. Setelah lulus dari jurusan Sains Komputasi dan Bisnis dari Simon Fraser University, Gaery mendapat pekerjaan di beberapa perusahaan prestisius.

Ia menceritakan, tujuannya berkuliah ke luar negeri tidak lain untuk mengubah nasib dan masa depannya agar lebih lagi.

Gaery menuturkan bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga yang penuh kegelimpangan harta. Saat menjajal hidup dan berkuliah di kanada, uang sakunya juga pas-pasan.

Selama hampir sepuluh tahun, Ia tinggal di Kanada merasa nyaman. Baginya, hidup di negeri dingin itu hidupnya sangat tertata rapi.

Segala sesuatu di bisa mudah didapatkan dan teratur, sangat jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia. Karena kenyamanan itu Ia akhirnya mengajukan izin tinggal permanen dan dikabulkan oleh pemerintahan Kanada.

Sesaat kemudian, Gaery endapat kesempatan untuk menjadi penanggung jawab sebuah even. Acara tersebut banyak melibatkan warga negara Indonesia dan bahkan turu dihadiri dari konsulat Indonesia.

Momen acara itulah menjdi titik balik bagi Gaery. Acara tersebut sempat memutar video tentang negara Indonesia dan diputar lagu Indonesia Raya.

"Jujur saja saat saya melihat video tentang Indonesia dan mendengar lagu Indonesia Raya, saya tergerak hatinya. Lantaran saya merasa aneh. Saya tinggal nyaman di Kanada tapi mentok," tutur Gaery kepada Tribun Jogja pada Sabtu (13/8/2016).

Ia merasa janggal. Di Kanada Ia merasa segala hal bisa terpenuhi namun hidupnya terasa monoton. Sejak melihat video tentang Indonesia, Ia sadar betapa indahnya keanekaragaman yang ada di bumi pertiwi.

"Saya jadi berpikir, padahal saya dibesarkan di Indonesia, bisa hidup dan berkuliah di kanada karena Indonesia tapi kenapa saya berkontribusi ke negara orang," katanya.

Tanpa pikir panjang, akhirnya pun Ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Mengambil cuti, selama tiga bulan Ia kembali ke Indonesia dan mempelajari kondisi saat itu. Baginya, walau dengan berbagai kekurangan di Indonesia, Ia melihat banyak kesempatan terbuka lebar.

Ia banyak merasakan hal-hal positif yang ada di Kanada namun belum ditemukan di Indonesia, semisal bisnisnya, fasilitas, hingga kualitas sumber daya manusianya.

"Ternyata banyak sekali yang bisa dikerjakan di Indonesia. Kesempatannya begitu besar. Tanpa pikir panjang, selama dua minggu saya jual seluruh barang pribadi di Kanada dan Februari 2011 kembali ke tanah air," terangnya.

Penuh polemik

Walau telah berbekal lulusan luar negeri dan pengalaman bekerja di perusahaan ternama, nyata Gaery kesulitan membangun bisnis di Indonesia.

Jatuh bangun sebagai pebisnis sudah ia alami berkali-kali. Namun Gaery berpegang teguh bahwa dirinya tetap merasa beruntung telah kembali ke Indonesia.

"Kalau ditanya, enak tidak pulang ke Indonesia? sangat tidak enak. Hidup di Indonesia itu susah. Tapi apakah saya menyesal? tentu sangat tidak menyesal dan merasa beruntung telah pulang," tuturnya.

Gaery berprinsip, hidup di Indonesia itu sulit namun ditengah kehidupan yang sulit dan banyak tekanan, disitulah biasanya kesempatan muncul.

Gaery pun menemukan peluang besar tersebut. Ia dan tiga temannya melihat ada sebuah peluang bisnis besar dari kondisi Indonesia.

"Negeri ini negeri kepulauan, tapi informasi pergi ke berbagai tempat sangat minim dan rumit dengan berbagai langkah. Lalu terpikirkan kenapa tidak membuat satu sistem yang mengintegrasi seluruh kebutuhan saat merencanakan bepergian," jelas Gaery.

Di tahun yang sama, Tiket.com akhirnya terbentuk. Walau dengan berbagai kendala, akhirnya perusahaan yang memasuki tahun kelima sukses menjadi pemain utama bisnis tiket dan travel.

Dari perjuangan membangun Tiket.com dari nol hingga menjadi besa, Gaery mempunyai pesan bagi generasi muda Indonesia.

Menurutnya, anak-anak muda Indonesia mempunyai semangat nasionalisme yang sangat tinggi dan itu harus terus dijaga untuk kemajuan bangsa Indonesia.

"Saya melihat hal yang sangat positif terhadap generasi muda Indonesia. Saya yakin Indonesia bisa lebih maju tapi hal tersebut tidak akan terwujud bisa tidak dimuluai dari generasi muda Indonesia itu sendiri," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved