Sastra

CERPEN: Puncak Rindu Untukmu Juita

Todi baru melihat sosok yang belum ditemui sejak setahun ini dia menjadi buruh aksara

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
notthecookiecuttergirl
Ilustrasi 

TODI mengulurkan tangan kepada Prisya bermaksud untuk berkenalan. Di beranda kantor itu, Todi baru melihat sosok yang belum ditemui sejak setahun ini dia menjadi buruh aksara.

"Todi."

"Prisya."

"Anak baru ya? Mulai kerja kapan?"

"Iya, dua hari ini ngantornya."

Sejak perkenalan itu, Todi merasakan ada anasir aneh yang menyeruak dari dalam dadanya. Tertarik dia rupanya dengan dara berkaca mata itu. Dijadikan tambatan hati? Kenapa tidak! Begitu kata hatinya berbisik.

Seminggu Prisya bekerja, Todi memosisikan diri sebagai seorang mentor. Berbagai pertanyaan yang diajukan siap dia jawab. Memang pada dasarnya Todi adalah pria baik yang tak pelit berbagi ilmu juga pengalaman. Tapi, ingin mengenal lebih dekat dengan gadis yang belum lama lulus kuliah itu menjadi motivasi tersendiri.

 ***

"Kita bubaran aja ya. Aku tahu ini sulit, aku enggak bisa nerusin kita."

Prisya hanya terdiam dengan air mata meleleh mendengar ucapan Ali. Dia tak bisa mencegah kawan ospeknya dulu yang delapan bulan ini menjadi kekasih harus pergi. Bukan sembarang perpisahan. Tapi bagi seorang wanita, menjadi yang kedua dengan sehormat-hormatnya adalah pengorbanan. Jika akhirnya harus ditinggalkan, ayam ditambat disambar elang cukuplah menjadi penggambaran.

Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved