Terlalu Banyak Bahan Kimia, Belut Makin Menghilang di Sleman

Keberadaan belut di areal persawahan di Sleman saat ini diyakini semakin menghilang.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kabupaten Sleman sudah kondang sebagai produsen keripik belut dengan sentra produksinya di wilayah Godean dan sebagian Seyegan.

Namun ternyata, keberadaan belut di areal persawahan di Sleman saat ini diyakini semakin menghilang.

Ekosistem yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia disinyalir menjadi penyebab utamanya. Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehuatanan (DPPK) Sleman, Suparmono mengatakan, sejatinya budidaya belut muncul secara alami di areal persawahan yang luas, berair jernih dan alami.

Hanya saja, kondisi persawahan Sleman saat ini semakin terpapar bahan pupuk kimia dan pestisida untuk mendorong tumbuh kembang tanaman. Hal ini berimbas pada hilangnya belut dari area setempat karena bermigrasi ke wilayah lain yang masih alami.

"Belut sekarang sudah ngga ada di persawahan Sleman karena penggunaan pupuk kimia. Kalaupun ada, populasinya pastilah sedikit," kata dia, Rabu (22/6/2016).

Menurutnya, belut termasuk hewan yang sulit diterapkan rekayasa teknologi budidaya. Hingga kini belum ditemukan teknologi baru dalam rekayasa pembiakan hewan bertubuh licin itu. Jalan paling gampang dan efektif menurut Suparmono adalah dengan pengembangan sistem minapadi yang organik, tanpa bahan kimia. Minapadi disebutnya telah terbukti sangat disukai belut untuk dijadikan habitat hidup dan berkembang biak.

Saat ini, Sleman memiliki luasan lahan minapadi sekitar 98 hektar. Dinas sendiri terus mendorong masyarakat untuk memperluas cakupan area minapadi tersebut. Tahun ini, Kementerian Pertanian sendiri akan memberi backup pengadaan lahan minapadi seluas 65 hektare. Sekitar 40 hektare di antaranya berada di Seyegan dan sisanya ada di Moyudan dan Minggir.

"Kalau minapadi ini bisa lebih dikembangkan, mungkin 2-3 tahun ke depan Sleman bisa jadi daerah produsen belut," kata dia.

Atas kondisi langkanya belut di Sleman, para pelaku usaha produksi keripik belut pun harus mengambil bahan baku dari luar daerah. Diakui Wasty, pengusaha keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, selama ini dirinya selalu mengambil belut segar dari wilayah Jawa Timur dan sedikit dari Jawa Barat serta Cilacap. Hal ini dilakukan mengingat ketersediaan bahan baku di Sleman sangat tidak memadai jumlah produksinya.

"Bahan baku tetap ambil dari luar. Sekali ambil dari Jawa Timur bisa mencapai 1 ton, untuk kebutuhan dua hari," katanya. (*)

Penulis: ing
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved