Pemkab Kulonprogo Terus Galakkan Program 'Zero Plastic' di TPA Banyuroto
Penanganan sampah saat ini memang diutamakan pada sumbernya.
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Meninjau sel landfill pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Banyuroto Nanggulan Kulonprogo, Kepala Seksi Wilayah I Sub Direktorat Pengelolaan Persampahan Direktorat Pengembangan PLP Kementerian PU Pera, Sandhi Eko Bramono, mengaku hanya menemukan residu.
Dia mengaku senang karena upaya Pemkab Kulonprogo menggalakkan zero plastic atau tidak ada plastik di TPA Banyuroto sejak tiga tahun lalu sedikit banyak menunjukkan hasilnya.
Menurutnya, penanganan sampah saat ini memang diutamakan pada sumbernya.
"Jadi bukan hanya di ujungnya saja. Kami senang melihat sel itu ternyata hanya residu yang ada," kata Sandhi, di sela-sela penyerahan bantuan buldozer dan eksavator, di TPA Banyuroto, Selasa (21/6/2016).
Bantuan alat berat untuk TPA tersebut senilai Rp 2.857.400.000, bersumber dari APBN. Bantuan itu diserahkan ke Pemkab Kulonprogo melalui Satker Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman (PSPLP) DIY.
Dari PPK Satker PSPLP I Kementerian PU Pera, Nurul Latifah Hanum, dua unit alat berat itu diterima Kepala DPU Kulonprogo, Sukoco.
Menurut Sandhi, keberadaan alat berat buldozer dan eksavator bakal mengefisiensikan pengaturan sampah di sel landfill.
Selain itu, alat berat akan akan meningkatkan kepadatan sampah hingga tiga kali lipat. Penataan sampah dan masanya tersebut diyakini akan menghemat pemanfaatan lahan TPA.
Dia menegaskan anggapan bahwa TPA sampah merupakan sarana pemrosesan akhir sampah sudah bukan zamannya. Keterbatasan lahan, menurutnya, kini sudah tidak mempan disiasati dengan metode tersebut.
Sesuai kebijakan nasional, kini TPA sampah justru merupakan hirarki paling bawah.
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, menyatakan ikrar zero plastic atau tidak ada plastik di TPA Banyuroto sejak tiga tahun lalu diwujudkan dengan melibatkan masyarakat melalui kelompok swadaya masyarakat (KSM).
Membentuk KSM itu, masyarakat mendapat bantuan bangunan pemilahan sampah di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) tingkat desa. Setelah dipilah, baru kemudian hanya residu yang dikirim ke TPA.
"Jadi penanganannya bertahap, ada bank sampah, KSM, TPST baru TPA. Ini sekaligus jadi bagian pengentasan kemiskinan karena yang dilibatkan dalam KSM warga pra sejahtera. Mereka diberi modal kendaraan roda tiga untuk mengambil sampah dari rumah-rumah," kata Hasto. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tpa_kp_20160621_202740.jpg)