10 Tahun Gempa DIY
Kenangan Peristiwa Gempa DIY 2006, dari Isu Tsunami Hingga Suara Dentuman di Kali Oya
Suara tangis, pekik takbir, dan juga kesedihan melanda daerahnya.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah, pada 27 Mei 2006 masih meninggalkan duka mendalam. Namun di balik cerita duka karena rumah roboh dan ribuan nyawa melayang, harapan dan pelajaran berharga terselip menjadi sebuah semangat hidup.
PAGI itu menjadi sebuah cerita tersendiri bagi Langgeng Waluyo, warga Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Seperti biasanya, dia hendak pergi ke pasar Pundong yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.
Langgeng mengendarai sebuah mobil yang dipakainya untuk mengantar dagangan berupa pakaian di pasar. Namun, dia mengendarai mobil, tiba-tiba jalanan terasa bergelombang. Mobilnya sulit dikendalikan dan seperti sedang bermimpi, dia mengalami goncangan hebat.
"Rumah di pinggir jalan kemudian roboh satu per satu. Setelah itu, suasana menjadi gelap, debu dari runtuhan rumah itu berhamburan ke udara sehingga saya tidak dapat melanjutkan perjalanan," kata Langgeng, mengenang peristiwa yang terjadi 10 tahun silam itu kepada Tribun Jogja.
Suasana mencekam itu membuat hatinya nanar. Dia bergegas, melihat banyak orang berhamburan. Suara tangis, pekik takbir, dan juga kesedihan melanda daerahnya.
Sesampainya di rumah, Langgeng dikejutkan dengan robohnya rumah besar miliknya yang berukuran 16 x 20 meter.
"Semuanya rata dengan tanah," lanjutnya.
Meski hatinya hancur melihat kediamannya hancur, dia lantas menyelamatkan istrinya dan anggota keluarga lainnya. Dengan susah payah dia berupaya meyelamatkan istrinya karena rumahnya rata dengan tanah. Namun, dia bersyukur semuanya selamat.
"Kami merasa diselamatkan Tuhan. Ada campur tangan Tuhan dari peristiwa ini," katanya.
Hidup di tenda
Hidup sebagai seorang pedagang dan sudah memiliki pasar besar, lantas sempat terganggu pasca gempa melanda. Bangunan tempatnya berdagang pun rusak, apalagi, tentu saja ekonomi kala itu kemudian menjadi tersendat.
Hidup dari rumah besar dan tergolong berada hingga di bawah tenda pun akhirnya dilakoni oleh Langgeng. Selama hampir berbulan-bulan dia menghabiskan waktu untuk hidup bersama dengan keluarga dan juga tetangganya dalam satu peristiwa yang mempersatukan.
"Di sini, justru kami bisa bergotong royong, bekerja bakti untuk membersihkan puing-puing rumah dan menikmati persaudaraan dalam satu perasaan yang sama," ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, gempa bumi yang terjadi 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.53 Wib itu tercatat berkekuatan 5,9 Skala Richer. Pusat Gempa berada di Selatan-Barat Daya Yogyakarta dengan kedalaman 10 Km. Selain di DIY dan Jawa Tengah, getaran Gempa juga dirasakan hingga sebagian wilayah Jawa Timur.
Isi tsunami
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/memory-gempa_20160526_160638.jpg)