Hanya Empat Kampung Wisata di Kota Yogya yang Menarik Minat Wisatawan
Sementara 13 kampung wisata lainnya membutuhkan pendampingan, baik dari sisi pengelolaan maupun kontinyuitas kegiatan.
Penulis: mrf | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Dari total 17 kampung wisata yang ada di Kota Yogyakarta, ternyata empat diantaranya yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Sementara 13 kampung wisata lainnya membutuhkan pendampingan, baik dari sisi pengelolaan maupun kontinyuitas kegiatan.
Adapun empat kampung wisata yang selama ini kerap dikunjungi wisatawan yakni Dipowinatan, Rejowinangun, Cokrodinongratan, dan Tamansari.
Di 2016 ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Yogyakarta menarget terdapat lima kampung wisata yang siap jadi jujugan.
“Target kami ada lima kampung. Satu kampung lagi di Dewa Bronto dengan keunikan becak majunya,” ujar Kepala Bidang Obyek dan Daya Tarik Wisata, Disparbud Kota Yogyakarta, Budi Santoso saat ritual budaya wiwit pari di Kotagede, Minggu (15/5/2016).
Dijelaskannya, Disparbud Kota Yogyakarta akan berupaya mendongkrak potensi di tiap kampung wisata dengan bekerjasama dengan Asosiasi Kampung Wisata.
Dengan begitu, diharapkan masing-masing pengelola memiliki komitmen untuk maju dan mampu mandiri dalam mengelola kampungnya.
“Karena ketika pengelola sudah dapat mandiri dan memiliki komitmen untuk maju, kami jadi mudah dalam mempromosikan,” sambung dia.
Lurah Rejowinangun Kotagede, Retnaningtyas mengungkapkan di Kampung Wisata Rejowinangun terdapat ritual wiwit pari yang telah digelar lima kali.
Meski lahan persawahan dikelurahan ini hanya 5,5 hektar dari 125 hektar, namun pihaknya mampun mempertahankan predikat ketahanan pangan nasional.
“Wiwit pari sendiri selalu digelar untuk mengawali panen padi. Kami sudah memiliki sistem yang dinamai lumbung hidup. Jadi tiap rumah memiliki tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai konsumsi,” jelas Retna.
Menurutnya, ritual wiwit pari sendiri diawali dengan kirab dengan berbagai bregodo menuju lokasi pertanian yang hendak dipanen.
Kemudian dilanjutkan dengan berdoa, dan padi yang siap panen itu dipetik bersama, serta ditutup dengan dhahar kembul atau makan bersama-sama.
"Dengan ritual seperti ini, harapan kami bisa memberikan motivasi petani dalam mempertahankan lahannya. Selain itu, wisatawan tertarik datang untuk menikmati upacara ini,” harap dia.
Sementara itu, Ketua Kampung Wisata Dewa Bronto, Marsudi Raharjo mengaku akan menempatkan diri sebagai tempat wisata alternative yang mengelola paket wisata.
Pasalnya di wilayahnya terdapat sejumlah penginapan yang menjadi jujugan wisatawan mancanegara di Prawirotaman.
“Karena kami sudah punya fasilitas seperti flying fox, wahana permainan air di sepadan Kali Code. Kami berharap bisa memboyong wisatawan di Prawirotaman ke sana,” tutup dia. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/prawirotaman_0304_20150403_185430.jpg)