Ayah Siyono Batal Beri Kesaksian di Sidang Kode Etik Densus 88

Hal itu karena Divisi Propam Mabes Polri tidak memperbolehkan dirinya didampingi oleh tim kuasa hukum

Ayah Siyono Batal Beri Kesaksian di Sidang Kode Etik Densus 88
Tribun Jogja/ Khaerur Reza
Tim Advokasi Kemanusiaan saat memberikan keterangan dalam konferensi pers yang digelar di Pusham UII Jeruklegi Banguntapan Bantul Rabu (13/4/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Marso (70) batal memberikan keterangan pada sidang kode etik anggota Densus 88, yang diduga menyalahi standar saat penangkapan anaknya, Siyono.

Hal itu karena Divisi Propam Mabes Polri tidak memperbolehkan dirinya didampingi oleh tim kuasa hukum

Dikatakan Tim Advokasi Kemanusiaan PP Muhammadiyah Trisno Raharjo, pihaknya datang ke Jakarta atas undangan Divisi Propam Polri, untuk menjadi saksi dalam sidang etik profesi.

Menindaklanjuti undangan tersebut, Marso bersama enam orang lainnya mendatangi mabes sesuai undangan.

"Kami datang sekitar pukul 08.00 WIB tapi baru bisa masuk pukul 09.30 WIB. Hal itu karena penjagaannya ketat sekali, harus menunggu terlebih dahulu. Dari tujuh orang, hanya empat orang yang diperbolehkan masuk ke gedung Mabes Polri. Dua orang advokat termasuk saya, Mbah Marso dan Pak Wagiyono (kakak Siyono)," ujar Trisno Selasa (19/4/2016).

Namun demikian, dari empat orang yang boleh masuk ke gedung Mabes Polri, ternyata hanya Marso seorang yang diundang untuk menuju ruangan sidang. Sepuluh menit berselang, tiga orang yang menunggu diperbolehkan untuk bergabung bersama Ayah dari Siyono.

"Ternyata mbah Marso belum masuk ke dalam ruangan sidang, ia hanya berada di ruangan tunggu. Ketika saya tanya mengapa belum masuk, yang bersangkutan mengatakan tidak mau karena tanpa didampingi oleh kuasa hukum. Padahal dari Divisi Propam tidak membolehkan jika memberi keterangan dengan didampingi oleh advokat. Jadi ia (Marso) batal memberi keterangan. Ia pun disodori surat untuk tak mau memberi keterangan oleh Polri," katanya.

Selain tak jadi memberikan keterangan, usut punya usut Marso juga disuruh membubuhkan tandatangan. Setelah ditelusuri oleh tim advokat, ayah dari Siyono ternyata disuruh menandatangani daftar hadir.

"Saya minta mana buktinya, namun hingga sore ini tidak diberikan. Namun saya sudah dapat jaminan Brigjen Agus sebagai ketua sidang komisi etik tidak akan menyalahgunakan tandatangan itu. Ya sudah saya tidak mempermasalahkannya lagi," ungkap Trisno.

Terkait persidangan etik tersebut, pihak pengacara tidak ambil pusing. Hal itu karena prosesi tersebut merupakan prosedur internal dari Polri. Namun demikian, ia meminta agar kasus tersebut tetap diteruskan ke ranah hukum pidana. Disamping itu, pihaknya meminta agar kasus itu dibuka secara gamblang. (*)

Penulis: pdg
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved