Pesona Keindahan Lasem di "Kesengsem Lasem"
LASEM ialah sebuah kota kecamatan, bagian dari Kabupaten Rembang di pesisir Pantai Utara, berjarak 12 km dari kota Rembang, Jawa Tengah.
Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
LASEM ialah sebuah kota kecamatan, bagian dari Kabupaten Rembang di pesisir Pantai Utara, berjarak 12 km dari kota Rembang, Jawa Tengah.
Belakangan, kota ini mendapat aneka julukan Kota Batik, Kota Santri, Kota Tua, Kota Pusaka, hinggaKota Tiongkok Kecil.
Sebuah pameran bertajuk ‘Kesengsem Lasem’ digelar di di Tirana House, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta. Sepanjang 11 April – 11 Mei 2016 pengunjung bisa menikmati karya foto, video, dan batik dari Lasem.
Pameran ini sendiri diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata / Pokdarwis Desa Karangturi Lasem, #KesengsemLasem, NGI (National Geographic Indonesia), dan Tirana House/ Art Management.
Karya-karya foto yang ditampilkan dalam pameran ini pernah dimuat di National Geographic Indonesia (NGI) dan National Geographic Traveller Indonesia.
Dalam edisi Februari 2016, kedua majalah tersebut menampilkan Pecinan Lasem dalam kisah featurenya.
“Corong Candu di Tepian Jawa” terbit di majalah National Geographic Indonesia, dan “Terbit Rindu pada Bekas Kota Candu” di National Geographic Traveller. Keduanya dikisahkan oleh Agni Malagina dan fotografer Feri Latief.
Karya foto yang lahir dari riset tim NGI: Mahandhis Y Thamrin, Agni Malagina, Feri Latief di bulan Juli 2015 berhasil merepresentasikan Pusaka Lasem pada situasi-situasi terbaiknya.
Dengan melihat dan menikmati pameran foto ini kita dibawa ke atmosfer ‘Kesengsem Lasem’. Sejarah Lasem tidak bisa dilepaskan dari para peranakan Tionghoa.
Itulah yang membuat Lasem unik; sebuah kota kecil berkisar 110 km dari Semarang, di sisi pesisir timur Jawa, tetapi memiliki penduduk Tionghoa yang cukup banyak.
Dengan sejarah panjang peranakan Tionghoa di Lasem, kita sekarang ini dapat dengan mudah menjumpai warga etnis Tionghoa bercengkerama dengan santai dengan etnis Jawa dan Muslim.
Rumah-rumah kuno berarsitektur Tionghoa-Indis-Jawa, klenteng-klenteng tua, dan batik dengan motif peranakan Tionghoa yang khas dengan gambar naga, burung hong, bunga seruni, dan warna merah darah mewarnai kearmonisan interaksi antar etnis. Tak heran jika Lasem juga memiliki sebutan sebagai Kota Tiongkok Kecil.
Lasem juga terkenal dengan sebutan Kota Santri. Dua sebutan terkenal tersebut mencerminkan bahwa penduduk di Lasem yang multi etnis dan multi agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis sejak lama hingga sekarang.
Selain itu Lasem juga terkenal sebagai Kota Batik. Perkembangan batik di Lasem, konon dimulai sejak masa Na Li Ni, istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He (1405-1433) yang memberikan pengaruh kebudayaan Campa/ Indo China pada batik Lasem.
Langgam batik Lasem pun mendapat pengaruh corak simbolik tradisi Tiongkok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lasem_dhf_20160417_120313.jpg)