Kedaimu.com Bantu Pasarkan Produk Difabel

Dengan adanya marketing online yang diberi nama kedaimu.com tersebut, produsen bisa memasarkan langsung barang atau jasa yang ditawarkan.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Ketua PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nasir MSi berjabat tangan dengan Ketua MPM PP Muhammadiyah, Dr M Nurul Yamin dalam launching marketing online bagi kelompok dampingan MPM PP Muhammadiyah, yang diberi nama kedaimu.com, Minggu (17/4/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kelompok dampingan Majelis Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, yang terdiri dari Industri Kecil Menengah (IKM), kelompok difabel, kelompok pedagang asongan, kelompok pengemudi becak, dan sebagainya, semakin terbantu dengan diluncurkannya marketing online, Minggu (17/4/2016), di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Ketua MPM PP Muhammadiyah, Dr M Nurul Yamin, mengatakan dengan adanya marketing online yang diberi nama kedaimu.com tersebut, produsen bisa memasarkan langsung barang atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen.

"Hal itu akan sangat menguntungkan. Produsen mendapat harga yang bagus, dan konsumen juga mendapat harga yang murah karena didapat langsung dari produsen," ucapnya.

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut menambahkan bahwa yang membedakan marketing online mereka dengan yang lain adalah bukan sekadar memarketingkan produk, namun juga memarketingkan nilai pemberdayaan.

"Nantinya akan ada keterangan pada masing-masing produk barang atau jasa. Misalkan produk Kembang Goyang asal Patuk, Gunung Kidul, beserta filosofinya. Kami juga menyediakan jasa, namun sementara ini khusus jasa transportasi tradisional," terangnya.

Keberadaan marketing online tersebut dirasa perlu karena Yamin melihat pertumbuhan kelompok dampingan MPM PP Muhammadiyah yang semakin meningkat.

Kedaimu.com pun nantinya tidak hanya menjadi 'rumah baru' bagi pelaku UMKM di DIY, namun juga di seluruh Indonesia.

"Arahnya lebih ke pemberdayaan. Kami mencoba membuka akses pasar. Bila awalnya banyak yang tidak punya akses pasar, mungkin karena tinggal di pedesaan maupun kelompok difabel dan sebagainya, di sini produk mereka bisa dipasarkan," tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved