Pertahankan Kamera Lubang Jarum di Era Digital
Kamera lubang jarum sendiri adalah alat pengabadi keadaan yang bisa dibuat dari beragam barang bekas, seperti kaleng.
Penulis: Hamim Thohari | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah zaman yang serba digital, termasuk di dunia fotografi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang tergabung dalam Release Photography Club (RPC) UMY masih mempelajari teknik foto menggunakan kamera lubang jarum (KLJ).
Hal ini dibuktikan dengan digelarnya pameran foto yang dihasilkan oleh kamera paling sederhana ini, di Kantin S 15 jalan Jalan Suryodiningratan No. 15 Yogyakarta dari tanggal 8 hingga 10 April 2016.
Dikatakan Syamsuriadi selaku ketua panitia acara, peserta pemeran didominasi oleh anggota baru RPC.
"Melalui pameran ini kami ingin mengenalkan salah satu teknik fotografi paling sederhana kepada para anggota baru. Dan kami juga berharap agar teknik ini tidak hilang," jelasnya di sela-sela pembukaan pameran, Jumat (8/4/2016).
Kamera lubang jarum sendiri adalah alat pengabadi keadaan yang bisa dibuat dari beragam barang bekas, seperti kaleng.
Nama lubang jarung disandang kamera ini karena lubang lensa yang dipakai untuk menangkap cahaya dibuat dengan ujung tajam jarum. sehingga ukuran lubangnya ya tak lebih dari lubang jarum yang kecil tersebut.
Di dalam kamera tersebut diisi kertas foto yang akan menangkap gambaran cahaya yang masuk melalui lubang kecil. Hasil foto dari kamera ini tentu berbeda dengan kamera digital ataupun kamera konvensional lainnya.
Untuk pameran kali ini para mahasiswa UMY ini mengambil tema "Manusia Lewat Lubang Jarung".
Dengan hasil jepretan berwarna hitam putih yang dramatis, 15 peserta pameran mengabadikan beragam aktivitas masyarakat yang ada di sekitar kita.
Aktivitas seorang penambal ban, penjual es, penjual burung, adalah beberapa momen yang diabadikan menggunakan kamera lubang jarum.
Ditambahkan Ayu Novita Dewi salah satu peserta pameran, selain mendalami teknis foto, melalui proses pameran ini mahasisiwi UMY angkatan 2013 ini juga belajar berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi obyek foto mereka.
"Butuh waktu sekitar tiga Minggu untuk menyelenggarakan pameran ini. Mulai dari tahapan workshop, hunting, hingga akhirnya pameran ini terselenggara," ujar Ayu. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/foto-klj_20160409_185915.jpg)