Sastra
Ganja Paripurna, Sebuah Cerpen
Tunggu tunggu Kenapa badanku ditutupi kain lalu diangkat ke ambulans
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
KERTAS tembakau terselip di sela-sela uang kumal di dompet. Kubeli seharga seribu perak di toko kelontong pojok pasar, barang itu menjadi senjata saat akhir pekan tiba. Bersama Momon, Komar, Ahmad, Odi, kami patungan lima ribu rupiah per orang tiap Kamis sore untuk membeli sepaket daun wangi kering. Kertas itu lah pembungkusnya sebelum ramai-ramai diisap.
Hari itu Jumat siang sepulang sekolah, kami berkumpul di satu rumah kecil di tengah kota yang dijadikan markas. Entah itu untuk membolos jam pelajaran, menonton VCD porno sewaan, atau sekedar mencari tempat merokok aman tanpa perlu takut dipergoki orangtua kami.
"Ini udah genap duitnya Gel. Entar siang SMS aja si Kodir suruh naruh itu barang di tempat biasa," ujar Komar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-abstrak-ganja_20160408_152051.jpg)