Sastra

Ganja Paripurna, Sebuah Cerpen

Tunggu tunggu Kenapa badanku ditutupi kain lalu diangkat ke ambulans

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
fineartamerica.com
Ilustrasi 

KERTAS tembakau terselip di sela-sela uang kumal di dompet. Kubeli seharga seribu perak di toko kelontong pojok pasar, barang itu menjadi senjata saat akhir pekan tiba. Bersama Momon, Komar, Ahmad, Odi, kami patungan lima ribu rupiah per orang tiap Kamis sore untuk membeli sepaket daun wangi kering. Kertas itu lah pembungkusnya sebelum ramai-ramai diisap.

Hari itu Jumat siang sepulang sekolah, kami berkumpul di satu rumah kecil di tengah kota yang dijadikan markas. Entah itu untuk membolos jam pelajaran, menonton VCD porno sewaan, atau sekedar mencari tempat merokok aman tanpa perlu takut dipergoki orangtua kami.

"Ini udah genap duitnya Gel. Entar siang SMS aja si Kodir suruh naruh itu barang di tempat biasa," ujar Komar. 

Mulai dari
NAMAKU AGELNAMAKU AGEL
Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved