Monumen Ini Saksi Bisu Jatuhnya Pesawat yang Ditumpangi Adisutjipto
Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto yang terletak di Dusun Jatiarang, Tamanan, Banguntapan, Bantul, merupakan saksi bisu jatuhnya pesawat VT-CLA
Penulis: usm | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto yang terletak di Dusun Jatiarang, Tamanan, Banguntapan, Bantul, merupakan saksi bisu jatuhnya pesawat VT-CLA, akibat serangan Belanda saat agresi militer Belanda pertama berlangsung.
"Kenapa monumen ini didirikan di sini? Karena di sini adalah tempat jatuhnya pesawat VT-CLA, yang di dalamnya terdapat Abdurachman Saleh, A Adisutjipto, dan Adisoemarmo, yang gugur setelah pesawat itu ditembak jatuh oleh Belanda," jelas Kepala Subseksi Monumen Perjuangan (Kasubsimonjuang) TNI AU, Mayor Adm Hartono, Kamis (7/4/2016).
Sebenarnya pesawat VT-CLA bukanlah pesawat perang, melainkan pesawat yang membawa obat-obatan, yang tak lain berupa bantuan dari Palang Merah Melaya untuk Indonesia.
"Pasawat VT-CLA sebenarnya sudah mendapatkan izin terbang dari Singapura, termasuk oleh Belanda. Tapi mungkin karena Belanda murka akibat serangan TNI di tiga kota, Ambarawa, Salatiga, dan Semarang, akhirnya pesawat itu diserang pesawat Kitty Hawk milik Belanda," ujarnya.
Adapun serangan itu terjadi pada 29 Juli 1947 sewaktu sore hari. Serangan yang diterima pesawat VT-CLA tak lain adalah wujud kemarahan Belanda akibat serangan militer Indonesia di pagi harinya.
"Yang menjadi korban jatuhnya pesawat itu ada delapan, di antara Alexander Noel Constantine, pilot dari Australia. Beryl Constantine, istri Alexander, Roy L. C. Hazlehurst co pilot berkebangsaan Inggris, Bida Rham, warga negara India, Abdurachman Saleh, A. Adisutjipto Ruwidodarmo, Adi Sumarmo Wirjokusumo, dan Zainal Arifin. Sementara yang selamat yakni Abdulgani Handonocokro," urai Hartono.
Setahun berselang, selepas insiden tersebut pada 1 Maret 1948 di Jatiarang didirikan sebuah monumen guna mengenang jasa mereka.
"Sebenarnyakan A. Adisutjipto, Abdurachman Saleh, dan Adisoemarmo itu salah satu perintis AU. Pastinya jasa mereka sangat besar untuk Republik. Lalu dibuat monumen sederhana. Dan kemudian tahun 1981 monumen ini dipugar, dan disempurnakan tahun 2000," ujarnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/adisutjipto_jhv_20160407_220038.jpg)