Orientasi Industrial untuk Berbagai Riset
Hasil riset diharapkan berorientasi pada kebutuhan industri dan siap diterapkan.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mendorong kalangan peneliti untuk membuat riset bidang farmasi yang lebih siap komersil.
Dalam artian, hasil riset diharapkan berorientasi pada kebutuhan industri dan siap diterapkan.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemenristek Dikti, Muhammad Dimyati mengatakan, saat ini banyak hasil riset yang belum bisa diaplikasikan langsung untuk keperluan industri.
Hal ini bisa disebabkan banyak hal seperti kurang terbukanya akses industri maupun ketidaktahuan peneliti terhadap kebutuhan industri.
"Terkadang riset hanya untuk kebutuhan peneliti saja, belum berorientasi pada industri. Pemerintah akan mendorong bidang riset ini untuk menghasilkan sesuatu yang lebih siap pakai," kata Dimyati forum diskusi Ristek-Kalbe Science Awards (RKSA) bertema 'Optimalisasi dan Komersialisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa' di University Club UGM, Selasa (29/3/2016).
Pemerntah disebutnya berupaya mendorong dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menggelar berbagai agenda kompetisi riset, komunikasi dengan Kamar Dagang dan Industri, dan lainnya. Selain itu, lanjutnya, cara paling mudah adalah dengan meminta short list kebutuhan industri.
"Kalau sudah tahu itu, peneliti akan merujuk pada kebutuhan itu dan pemanfaatan risetnya," kata dia.
Peneliti Indonesia menurutnya akan dipermudah dalam mendapatkan dana penelitian dan pertanggungjawabannya. Dengan begitu, para peneliti semakin bergairah untuk berinovasi dan melakukan temuan-temuan yang dibutuhkan masyarakat luas.
Tahun ini, Kemenristekdikti memberikan solusi, yakni penelitian yang dilakukan adalah berbasis output. Jadi, para peneliti tidak perlu ribet soal status accountable risetnya.
"Penelitian bisa bersifat multiyear. Bisa dikata, 2017 merupakan tahun emas para peneliti,” Dimyati.
Sementara itu, Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Pre Agusta, mengatakan, inovasi menjadi hal penting bagi industri dalam meningkatkan daya saing.
Hal ini juga tak bisa dilepaskan dari adanya riset secara berkelanjutan di bidang yang digeluti. Pihaknya sendiri mengalokasikan dana sekitar 0,9 persen dari omzet tahunan untuk keperluan pengembangan sumber daya, termasuk riset.
"Sales revenue Kalbe Farma saat ini sekitar Rp18 triliun, jadi ada dana Rp180 miliar untuk keperluan riset," kata dia.
Melalui RKSK, pihaknya juga mencari riset-riset di bidang terkait untuk meningkatkan inovasi produk. Di antaranya menyangkut makanan sehat, farmasi, hingga food suplemen yang menjadi bisnis utama Kalbe Farma.
"Tapi meski itu dari Kalbe Farma, hasilnya bisa dipakai untuk industri lain," kata dia. (*)