X-Code Films Garap Dua Film Tentang Borobudur

Dua buah film yang berjudul ‘Eternal Borobudur: Borobudur masa lalu, sekarang dan nanti’, dan ‘Learning From Borobudur’ bakal tayang setiap harinya

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Riezky Andhika P
Proses pembuatan film 

TRIBUNJOGJA.COM - Beberap waktu lalu, masyarakat dihebohkan dengan berita sebuah produk minuman berenergi membuat video iklan di Borobudur.

Pada video tersebut terdapat adegan atraksi ‘parkour’ di Candi yang menjadi kebanggan dunia tersebut.

Atraksi ‘melompat-lompat’ di Candi Borobudur tersebut menuai banyak protes dari berbagai kalangan, termasuk para budayawan. Setelah diselidiki ternyata tidak ada izin resmi terkait pembuatan iklan tersebut.

Terlepas dari peristiwa tersebut, dua buah film yang berjudul ‘Eternal Borobudur: Borobudur masa lalu, sekarang dan nanti’, dan ‘Learning From Borobudur’ bakal tayang setiap harinya di Theater Audio Visual Borobudur, yang terletak di kompleks Candi Borobudur.

Film ini diproduksi sebagai bekal pengetahuan bagi para wisatawan sebelum menginjakkan kaki di Candi Borobudur.

Film ini juga menjadi bagian dari management visitory, oleh karena itu isi film ini cenderung retorik, menyebarkan informasi secara persuasif.

Bersama X-Code Films, sutradara muda asal Yogyakarta, Budi Laksono dipercaya menggarap kedua film tersebut.

Adalah Viko Amanda selaku produser dan juga owner X-CODE films yang memercayakan pembuatan film ini kepada Budi.

Film ini adalah film dokumenter pertamanya bekerjasama dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Budi mengaku sempat grogi setelah tahu bahwa film yang akan dibuatnya ini bakal menggantikan film sebelumnya, besutan sutradara ternama, Garin Nugroho.

“Tidak ingin membuang kesempatan berharga, saya langsung menerima tawaran menyutradarai film ini,” ujar pria kelahiran 11 September 1986 ini.

Budi berujar bahwa Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia, dan ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Banyak sekali ilmu dan wawasan yang bisa didapat di monumen ini, “namun para wisatawan dirasa kurang mengeksplorasinya dengan baik, padahal segala fasilitas telah disediakan oleh pengelola, karena itulah film ini dibuat.”

Jika dilihat dari hasil akhirnya, menurut Budi film ini cenderung bisa dikategorikan film dokumenter ekpositori, yakni tipe film dokumenter yang klasik bila dibandingkan dengan film dokumenter yang sering ditayangkan di televisi saat ini.

Film dengan pendekatan seperti ini, dahulu banyak dipakai sebagai propaganda di era Perang Dunia I. Film ini memadukan antara narasi dengan serangkaian gambar yang deskriptif dan informatif.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved