Breaking News:

Aksi Parkour di Candi Borobudur

Video Parkour di Candi Borobudur Dinilai Sebagai Ekspresi Keblabasan

Sebab kecaman tersebut menampilkan adegan-adegan yang kurang pantas dilakukan di candi yang dibangun sekitar tahun 800 Masehi.

Facebook | Redbull

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Video bermateri iklan brand minuman energi, Red Bull menuai banyak kecaman dari netizen maupun warga masyarakat sekitar Candi Borobudur.

Sebab kecaman tersebut menampilkan adegan-adegan yang kurang pantas dilakukan di candi yang dibangun sekitar tahun 800 Masehi yang merupakan tempat ibadah umat Budha ini.

Adegan yang ada dalam video berdurasi 1 menit 23 detik itupun membahayakan keutuhan candi dan juga berpotensi menjadi model yang bakal ditiru, sehingga kutuhan candi menjadi terancam.

Tribun Jogja sempat melakukan penelusuran tentang video dari merek minuman energi itu. Dari hasil penelusuran video tersebut diunggah pada Kamis (17/3/2016) malam.

Namun ketika dilakukan penelusuran lagi pada Sabtu (19/3/2016) malam, video tersebut sudah menghilang dari peredarannya.

Joe Marbun, Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya mengatakan, ketika berbicara mengenai kreatifitas setiap orang memang sangat beragam dan tidak selalu sama.

Namun melihat hal tersebut menurutnya merupakan sebuah proses kreatifitas yang "kebablasan".

Hal inipun merupakan sebuah bentuk yang tidak memperlihatkan sebuah penghargaan terhadap sesuatu. Candi Borobudur bukan saja sebagai daya tarik wisata, namun juga sebagai pusat keagamaan.

"Dalam konteks pelestarian warisan budaya, budaya itu sesuatu yang di dalamnya terkandung nilai-nilai, sehingga dalam konteks penmerapannya harus mengacu pada konteks itu. Nah ini yang belum banyak orang paham. Memang fungsi Borobudur saat itu fungsinya monumen sebagai pariwisata, tapi tidak lupa Borobudur juga sebagai pusat keagamaan, sehingga ada aturan main," ungkap Joe kepada Tribun Jogja, Sabtu (19/3/2016) malam.

Ia melanjutkan, hal itulah yang harus ditekankan kepada semua orang untuk menghargai terhadap keberadaan warisan budaya.

Menurutnya yang dihargai itu bukan saja monumen hidupnya, tetapi yang terpenting adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Mengingat Candi Borobudur pun bukan saja berbicara mengenai menyelamatkan fisik dari candi tersebut, namun menyelamatkan nilai-nilai yang terdapat dalam Candi Borobudur.

"Menghidupkan nilai Candi Borobudur sebagai bangunan keagamaan di situ harus ada etika yang harus dimainkan. Mengingat video itu, ini yang kita sebut sebagai bentuk kebablasan dalam bentuk berekspresi. Sebelum proses itu dilakukan, saya kira mereka harus mengkomunikasikan terlebih dahulu ke otoritas setempat. Itu yang sepertinya luput. Apalagi oleh perusahaan atau institusi yang memiliki kredibilitas yang tinggi," jelasnya.

Setelah kejadian ini, pihaknya pun langsung membicarakan dengan orang-orang yang tergabung dalam Masyarakat Advokasi Warisan Budaya untuk tidakan lebih lanjut, baik itu sebuah gerakan maupun yang lainnya. (tribunjogja.com)

Penulis: abm
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved