RS UGM Gelar Operasi Rumit

Operasi dengan sebutan Timpanomastoidektomi, sangat jarang bahkan belum pernah dilakukan di wilayah Yogyakarta.

Penulis: gil | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (RS UGM) mengadakan puncak acara HUT ke-4, Rabu (2/3/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pada Minggu (20/3/2016), untuk pertama kalinya Rumah Sakit UGM akan mengadakan operasi rekontruksi telinga tengah pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau disebut penderita radang telinga tengah menahun.

Operasi dengan sebutan Timpanomastoidektomi, sangat jarang bahkan belum pernah dilakukan di wilayah Yogyakarta.

Operasi ditujukan kepada enam pasien OMSK atau yang dikenal pula dengan sebutan congekan, yang sudah memenuhi kualifikasi untuk dioperasi.

Biaya operasi sebagian ditanggung dengan jaminan dan subsidi dari donatur. Operasi sendiri bisa menghabiskan ratusan juta rupiah.

Direktur RS UGM Prof. dr. Arif Faisal, Sp. Rad(k)., DHSM mengatakan, operasi merupakan rangkaian kegiatan acara HUT ke-4 RS UGM, Dies Natalies ke-70 FK UGM dan HUT ke-34 RSUP Dr. Sardjito.

"Selain sebagai perayaan ulang tahun, operasi juga sebagai momen untuk peningkatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan pelayanan operasi kepada pasien OMSK sekaligus pembelajaran bagi para pemberi pelayanan," ujar Arif kepada Tribun Jogja, Sabtu (19/3/2016).

Selain operasi, RS UGM juga menggelar workshop tentang OMSK kepada anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (Perhati-KL) tingkat DIY Jawa Tengah.

Workshop tersebut kerjasama antara RS UGM dengan Alumni FK UGM angkatan 1967 dan Perhati-KL Indonesia. Hadir pula pakar senior THT Indonesia.

"Harapannya, operasi ini bisa dilaksanakan secara rutin dan RS UGM mempunyai tenaga keahlian di bidang THT. Karena operasi ini membutuhkan peralatan khusus yang canggih dengan keahlian khusus dalam pengoperasiannya," tutur Arif. Ia mengatakan, RS UGM akan terus meningkatkan pelayanan dengan mempunyai peralatan khusus tersebut.

Dokter spesialis THT dari RS THT Proklamasi Jakarta dr. Soekirman Soekin, Sp. THT-KL (K) mengatakan, operasi bersifat bedah mikro, yakni membutuhkan mikroskop khusus.

"Operasinya kan melihat organ di dalam telinga, tentu membutuhkan peralatan khusus untuk memperbaiki organ yang sangat kecil di dalam telinga," ujar Soekirman.

Ia menjelaskan, OMSK terjadi ketika infeksi menyerang organ telinga bagian tengah yakni gendang dan tulang telinga.

"Infeksi terjadi karena adanya bakteri yang terlalu lama dibiarkan mengendap hingga akhirnya menggerogoti organ dalam," terang Soekirman.

OMSK bisa menimbulkan gangguan hingga kehilangan pendengaran.

OMSK merupakan penyakit yang marak terjadi di negara berkembang.

Di Indonesia OMSK menyerang tiga persen total penduduk Indonesia, artinya lebih dari tujuh juta orang Indonesia menderita OMSK.

"Dengan operasi ini, kemungkinan kesuksesan mencapai 97%," ujar Soekirman. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved