Keluarga Pria yang Ditangkap Densus 88 Ingin Tenang dan Bebas dari Tekanan
Mereka juga meminta perlindungan kepada pemerintahan desa dan kepolisian, dari berbagai pihak yang dianggap mengganggu ketenangan, termasuk pewarta.
Penulis: pdg | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Pasca pemakaman Siyono (34), keluarga mengaku sudah merelakan kepergian anak bungsu dari empat bersaudara itu.
Disamping itu, mereka juga meminta perlindungan kepada pemerintahan desa dan kepolisian, dari berbagai pihak yang dianggap mengganggu ketenangan, termasuk pewarta.
"Keluarga datang ke kantor pemerintah desa untuk meminta perlindungan. Mereka merasa terusik dan terganggu, mereka merasa capek karena sudah banyak yang datang, entah mengatasnamakan siapa. Untuk saat ini dan selamanya, rekan pers jangan kesana (rumah duka). Tentang kematian keluarganya (Siyono) mereka sudah menganggap itu sebagai takdir," ucap Kades Pogung, Joko Widoyo, di balai desa, yang juga dihadiri Kapolsek Cawas Totok Mugiyanto, Senin (14/3/2016).
Ia mengungkapkan, permintaan itu dinyatakan langsung oleh perwakilan pihak keluarga yakni sang ayah Marso dan kakak almarhum Wagiyono.
Dikatakan Joko, mereka datang langsung ke kantornya pada Senin siang, sekitar pukul 10.00 WIB.
Dikatakan Joko, sejak peristiwa penggeledahan oleh Densus 88 hingga kabar meninggalnya Siyono, banyak pihak yang datang ke rumah yang berada di Dukuh Brengkungan, RT 11/5 itu.
Banyak diantaranya yang datang dengan menggali berbagai informasi, terkait kabar tersebut.
"Ayah dari Siyono (Marso) datang kesini karena merasa terusik oleh njenengan-njenengan (anda) rekan pers. Ia meminta perlindungan dan minta ketenangan untuk mendoakan anaknya, karena ia merasa terusik dan tidak tenang. Cuma itu. Cara kami melindungi ya dengan tidak mengizinkan anda (pers) untuk melakukan wawancara," ucapnya tegas.
Namun sesaat sebelumnya, Wagiyono kakak almarhum Siyono sempat memberikan statement lewat sambungan telepon. Ia mengatakan, sudah mengikhlaskan kepergian adiknya.
"Dari pihak keluarga sudah mengikhlaskan, kami sudah merelakan. Bagaimanapun itu yang terbaik. Langkah selanjutnya, kami ingin bermasyarakat lagi, seperti yang lainnya (normal) enak tidak tertekan dari manapun," ujarnya singkat.
Ditanya lebih lanjut mengenai tekanan yang diterima oleh keluarganya, Wagiyono enggan menjawab. Ia memilih untuk diam dan lalu menutup pembicaraan.
Ditemui terpisah, Kapolres Klaten AKBP Faizal mengemukakan segera merespon hal tersebut. Ia mentgaku sudah mendapatkan laporan terkait permintaan perlindungan dari pihak keluarga.
"Pengamanan akan diserahkan kepada pihak kepolisian sektor (polsek) dan pemerintah desa, secara tertutup. Hal itu menurut kami sudah cukup karena jika sampai pengamanannya menggunakan personel dari Polres malah tampak berlebihan," jelas Faizal. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rumah-siyono_20160312_154630.jpg)