JIFFINA 2016: Kuatkan Pasar Domestik Craft dan Furniture

Pihak penyelenggara menerapkan sistem kurasi pada produk yang akan ditampilkan agar lebih menarik perhatian buyer.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penguatan pasar domestik turut jadi perhatian utama dalam gelaran Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2016 yang akan segera digelar di Jogja Expo Center, 13-16 Maret 2016 oleh Forum Asmindo (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) Jawa-Bali.

Maka itu, pihak penyelenggara menerapkan sistem kurasi pada produk yang akan ditampilkan agar lebih menarik perhatian buyer.

Jiffina rencananya akan diikuti oleh 160 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Antara lain Yogyakarta, Solo, Jepara, Semarang, Jakarta, Padang, Jombang, Bojonegoro, dan Bontan (Kalimantan).

80 persen peserta berasal dari kategori UKM dengan berbagai spesifikasi produk. Dengan jumlah buyer yang hadir diperkirakan mencapai 2000 buyer (sekitar 1026 buyer dari 36 negara sudah terkonfirmasi), pantas saja jika kemudian Asmindo melakukan kurasi produk pameran.

Anggota Steering Commitee Jiffina 2016, Yuli Sugiyanto mengatakan, banyaknya buyer yang akan hadir itu dianggap potensi besar untuk mengangkat produk-produk kerajinan dan craft UKM.

Asmindo dalam pameran ini memang menekankan adanya ragam produk yang berbeda serta orisinil dari para peserta.

Sehingga, ada kebaruan desain produk serta originalitas karya yang bisa memicu buyer untuk bertransaksi. Tak hanya buyer dari luar negeri namun juga pasar domestik.

"Dengan kelesuan ekonomi global, pasar domestik jadi incaran. Investor, pengembang properti, kontraktor interior, pemilik proyek, semua kita undang. Dari pameran ini kita juga ingin bangun pasar domestik. Banyak proyek pembangunan hotel di Yogya digarap orang luar dan mebel-mebelnya pakai produk China, ini kan ironis," kata Yuli, Rabu (9/3/2016).

Kuratorial produk peserta pameran menurutnya diperlukan untuk memilah-milah kualitas. Harapannya, produk yang punya nilai tinggi (high value product) bisa ditempatkan dalam porsi yang sesuai sehingga akan lebih berdaya ekonomi serta menarik perhatian para buyer.

Hal ini diharapkan juga bisa mendongkrak pamor Yogyakarta sebagai kota industri kreatif.

"Adanya tim kuratorial ini untuk mendampingi UKM (usaha kecil menengah) dalam pemilahan produk yang cocok untuk pasar. Jadi, mereka bisa menampilkan sesuatu yang baru dan berbeda dalam pameran ini. Barang yang bermutu bagus meskipun harganya murah namun kalau dikemas apik pasti harganya bisa jauh lebih baik," kata Yuli. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved