Mahasiswa FKH UGM Ciptakan Obat Toksokariasis dari Buah Mengkudu

Guna mengetahui aktivitas antihelmintik pada buah mengkudu, kelimanya melakukan uji terhadap lima ekor kucing yang terkena toksokariasis.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Deny Tambunan, satu di antara lima mahasiswa FKH UGM yang meneliti kandungan buah mengkudu sebagai obat toksokariasis, sedang mengamati ekstrak mengkudu yang diujikan terhadap telur toxocara dalam feses kucing. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Buah mengkudu yang ternyata dapat menjadi obat penyakit toksokariasis.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mereka adalah Deny Tambunan, Rosa Lakshita Nugrahani, Puspita Dewi Fortuna, Iqbal Fathurahman, serta Ni Made.

“Mengkudu ini banyak dijumpai di Indonesia, namun belum banyak yang memanfaatkannya dan dibiarkan berjatuhan dan membusuk begitu saja. Padahal mengkudu ini memiliki berbagai khasiat salah satunya bisa digunakan sebagai obat toksokariasis karena mengandung senyawa antihelmintik (obat cacing),” papar Rosa, ketika ditemui di FKH UGM, Senin (22/2/2016).

Guna mengetahui aktivitas antihelmintik pada buah mengkudu, kelimanya melakukan uji terhadap lima ekor kucing yang terkena toksokariasis.

Sebelum mengaplikasikan pada kucing, mereka terlebih dahulu mengolah mengkudu hingga menjadi ekstrak.

Mereka membuat ekstrak mengkudu dalam empat konsentrasi yaitu 40 persen, 60 persen, 80 persen, dan 100 persen.

“Hasil optimal diperoleh dengan pemberian ekstrak mengkudu sebanyak 100 persen. Setelah hari ke-3 pemberian 100 persen ekstrak mengkudu, sama sekali tidak terdapat telur toxocara dalam feses kucing,” jelas Rosa.

Penggunaan buah mengkudu sebagai obat toksokariasis, dikatakan Rosa juga aman bagi manusia karena berasal dari bahan alam sehingga minim efek samping. Selain itu juga aman dikonsumsi bagi ibu hamil.

“Masih perlu dilakukan berbagai penelitian lanjutan. Salah satunya untuk menentukan dosis yang tepat bagi manusia,” tuturnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved