Begini Awal Mula Pelajar Bisa Ikut Tawuran

Remaja juga masuk dalam fase egosentrisme dimana remaja punya tugas untuk mengambil keputusan dan problem solving.

Penulis: una | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/ Agung Ismiyanto
Ilustrasi: 21 pelajar dari SMK Adipura dan SMPN 3 Salam dihukum jalan jongkok dan saling cukur rambut karena diduga terlibat aksi tawuran dengan SMA Nurul Iman Muntilan, Senin (4/1/2016). 

PELAJAR sekolah menengah masuk dalam fase usia remaja. Dalam fase tersebut, seorang anak masuk dalam proses pencarian identitas.

Dan pencarian identitas tersebut tidak hanya mereka dapat dari rumah tetapi juga mencari di lingkungan di luar rumah.

Remaja juga masuk dalam fase egosentrisme dimana remaja punya tugas untuk mengambil keputusan dan problem solving.

"Alasan mereka tawuran bisa jadi karena kemampuan problem solving mereka itu dengan berkelahi. Menurutnya berkelahi akan menyelesaikan masalah. Kemudian alasan yang kedua adalah mencari identitas di lingkungannya. Bisa saja hal tersebut terjadi karena anak memiliki faktor di rumah yang membuat dia tidak nyaman dan tidak memiliki wadah untuk menunjukkan perannya. Untuk itu mereka akan mencari identitas keluar rumah," jelas Analisa Widyaningrum, M.Psi, Psi selaku Psikolog JIH dan Direktur Analisa Personality Development Center.

Lingkungan di luar rumah yang mereka temui pasti memiliki norma-norma tertentu. Lantas, ketika remaja kemudian masuk ke dalam geng tertentu, geng tersebut pasti punya norma yang harus dijalankan.

Remaja kemudian harus mengikuti budaya atau norma yang berlaku agar diakui di geng yang di ikuti. Jika tidak dilakukan maka dirinya akan terasing dari geng tersebut.

"Sebenarnya ada beberapa faktor penyebab remaja akhirnya masuk ke dalam hal negatif seperti tawuran. Kemungkinan faktor internal dalam diri mereka, kepribadian emosinya belum stabil. Kemudian di dalam keluarga, apakah si anak dapat pemenuhan perhatian dari keluarga. Lalu, sekolah juga harus bisa menanamkan nilai yang ada. Dan terakhir adalah dalam lingkungan sosial, remaja tersebut bergaul dengan siapa?," tambah Analisa Widyaningrum.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika masuk dalam lingkungan budaya tawuran, kemudian remaja tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Maka dari itu, remaja seharusnya mencari lingkungan yang bisa menerima dirinya dengan segala sesuatu yang dia suka dan dia bisa.

"Remaja bisa menyalurkan bakatnya ke arah yang lebih positif. Misalnya dengan mengikuti ekstra kulikuler. Jika suka berkelahi, remaja bisa mengambil ekstra kulikuler karate sehingga emosinya bisa tersalurkan tetapi dalam bidang olahraga," tambah Ana.

Ketika remaja terlanjur masuk ke dalam lingkungan yang mengharuskannya untuk berlaku tawuran, maka masuklah peran orangtua yang harus memahami bagaimana perkembangan psikologis anak mereka.

Harapannya anak bisa mengkomunikasikan ke orangtua atau ke guru.

"Mereka harus berani mengungkapkan dan berlaku asertif. Memang, konsekuensinya, si remaja harus menerima bahwa dirinya tidak akan diterima dilingkungannya tersebut. Disini ada proses desicion making yang harus mereka jalani. Belajar mengambil tanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Jika yakin tawuran pilihannya, ya mereka harus terima konsekuensi bahwa dia akan celaka, masuk penjara misalnya. Kalau tidak siap ya jangan lakukan tawuran," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved