Potensi Pendidikan Vokasi dalam MEA

Indonesia memasuki era ASEAN Economics Community, atau yang lebih kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dok pri
Muhamad Nukha Murtadlo, Dosen Politeknik Muhammadiyah Magelang 

SAAT ini Indonesia memasuki era ASEAN Economics Community, atau yang lebih kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Era di mana akan semakin banyak tenaga ahli antarnegara. Kondisi ini memiliki dua makna.

Pertama, negara yang memang sudah memiliki kesiapan kualitas sumber daya manusia (SDM) memadai, akan sangat diuntungkan karena mereka mampu berperan secara optimal.

Kedua, negara yang tingkat kualitas SDM-nya terbatas, masih memiliki pekerjaan rumah sebelum benar-benar ikut bersaing.

Dalam hal ini pendidikan menjadi sektor utama untuk meningkatkan kualitas SDM, terutama di Indonesia. Jenis dan jenjang pendidikan yang kita miliki sangat beragam.

Salah satunya adalah pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi merupakan pendidikan keahlian terapan yang diselenggarakan perguruan tinggi biasanya berbentuk politeknik, akademi dan akademi komunitas.

Pada dasarnya pendidikan, apapun, mampu memberikan bekal peningkatan SDM jika dipilih sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak.

Jadi, sebetulnya tidak ada permasalahan jika kita memilih jenjang Diploma sedangkan yang lain memilih jenjang sarjana. Tiap jenjang pendidikan memiliki desain kekhasan dan tujuan masing-masing.

Pendidikan vokasi sebetulnya memiliki peran ukup besar untuk mempersiapkan pasokan tenaga ahli untuk bersaing di era MEA. Namun bagaimana agar pendidikan vokasi dapat memenuhi tuntutan tersebut?

Pendidikan vokasi memiliki kekhasan mengajarkan ilmu terapan kepada mahasiswa.

Karena itu, pendidikan vokasi harus menjalankan kurikulumnya berbeda dengan kurikulum perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademis.

Komposisi 60% praktik dan 40% teori, harus mampu dilaksanakan. Selain itu pengguna lulusan pendidikan vokasi adalah dunia industri, hal ini dapat dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama antara institusi dengan dunia industri.

Saya rasa seluruh penyelenggara pendidikan vokasi sudah sangat memahami hal ini.

Namun kendala yang sering muncul adalah, tidak mudah untuk menjalin kerja sama semacam itu. Kerja sama yang membidik hingga perbaikan kurikulum bersama, penyaluran lulusan terkadang baru mampu pada taraf praktik kerja.

Membahas mengenai pendidikan vokasi tidak dapat dilepaskan dari negara Belanda dan Jerman.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved