Festival Budaya Klasik untuk Lestarikan Budaya di Lereng Merapi
Ada sebuah kesenian yang cukup unik, yakni Gasir Ngentir dari Dusun Karang Anyar yang kerap pentas di kota-kota besar yang ada di Indonesia.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Seniman dan warga kawasan rawan bencana di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang berupaya untuk melestarikan budaya klasik agar tidak semakin lekang oleh waktu. Cara yang mereka lakukan adalah dengan menggelar festival budaya klasik di Dusun Sabrang, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Minggu (24/1/2016).
ARAK-ARAKAN hasil bumi mengawali festival budaya yang diinisiasi oleh puluhan seniman di desa teratas di Kabupaten Magelang ini.
Hasil bumi yang diarak itu berupa padi, ketela, jagung, sayuran dan lainnya ini dikemas dalam bentuk gunungan.
Para seniman ini kemudian mengarak hasil bumi tersebut dari balai desa setempat menuju panggung pentas di tengah dusun yang berjarak kurang lebih 1 kilometer.
Dari tempat tersebut, kemudian para seniman langsung menampilkan beragam kesenian.
Mulai dari seni karawitan Setyo Laras dari Dusun Kembang, kemudian seni jalantur dari Dusun Karanganyar, seni jathilan Cipto Argo Budoyo dari Dusun Tanen, seni jathilan Kudo Panglaras dari Dusun Batur Duwur, seni jathilan Cipto Budoyo Dusun Tangkil, seni reog dari Dusun Sabrang, seni campur cipto saro dari Dusun Bojong, seni cakarlele dari Dusun Ngandong, seni dolalak dari Dusun Tanen, seni Angguk Rame dari Dusun Batur Ngisor.
Dari penampilan tersebut, ada sebuah kesenian yang cukup unik, yakni Gasir Ngentir dari Dusun Karang Anyar yang kerap pentas di kota-kota besar yang ada di Indonesia.
Kesenian Gasir Ngentir ini, memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan kesenian lainnya. Lantaran, selain pemainnya berusia lansia juga gerakan yang diperagakan oleh para penari jauh berbeda dengan kesenian lainnya.
“Dengan penampilan 11 kesenian ini, kami berupaya untuk melestarikan kesenian yang ada di sekitar Lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Ngargomulyo yang sudah diturunkan dari nenek moyang,” ujar Ketua Panitia Festival Budaya Klasik Dusun Sabrang, Desa Ngargomulyo, Widodo, Minggu (24/1/2016).
Selain untuk pelestarian budaya, lanjut Widodo, Festival Budaya ini juga bertujuan untuk menunjukkan rasa persatuan dan kesatuan sesama warga untuk mengapresiasi bersama para seniman.
Hubungan dengan Alam
Widodo juga menambahkan, wilayah Desa Ngargomulyo merupakan kawasan rawan bencana Merapi.
Dia pun menjelaskan, hal utama yang akan diangkat dari festival ini adalah warga dan seniman bisa menunjukkan hidup berdampingan secara arif dan bersatu antara manusia dengan alam.
“Sehingga, kita bisa aman dan tenteram meski tinggal di kawasan rawan bencana,” imbuhnya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemkab Magelang, Husain sangat mengapresiasi persatuan dan kesatuan warga Desa Ngargomulyo yang masih bersemangat untuk mempertahankan nilai kebudayaan tradisional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seni-budaya_dsygfdhs_20160124_172012.jpg)