Ekspor Mebel Perlu Digenjot 2 Persen Per Tahun

Partisipasi dalam berbagai pameran dan eksbisi diharapkan bisa menggaet lebih banyak buyer dari luar negeri.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) berharap bisa mengejar pertumbuhan transaksi ekspor lebih tinggi ke depannya.

Partisipasi dalam berbagai pameran dan eksbisi diharapkan bisa menggaet lebih banyak buyer dari luar negeri.

Ketua Forum Asmindo Jawa-Bali, Timbul Raharjo mengatakan, target transaksi ekspor mebel dan furniture Indonesia lima tahun mendatang mencapai USD 5 miliar.

Sementara saat ini nilai ekspor hanya sebesar USD2,65 miliar di mana senilai USD800 juta berasal dari ekspor kerajinan.

Dengan demikian, ujarnya, harus ada peningkatan sekitar 2 persen per tahun jika ingin mencapai target tersebut.

"Ekspor kita masih lebih kecil dibanding Tiongkok maupun Vietnam dan negara lain di Asia," kata Timbul seusai seremoni launching event Jogja International Furniture and Crft Fair Indonesia (JIFFINA) 2016 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (13/1/2016) malam.

Diakuinya, nilai ekspor sempat menurun drastis sejak 2007 sebelum akhirnya bisa kembali merangkak naik pada 2013 lalu.

Pun saat ini, angka ekspor belum bisa menyamai kondisi 2007. Dia memandang perlu adanya kerjasama dengan semua koomponen yang berkepentingan dalam urusan ekspor agar nilainya bisa kembali mencuat.

Banyak cara perlu dilakukan untuk mencapai target itu. Di antaranya dengan menggelar maupun beraprtisipasi dalam pameran-pameran internasional. Adapun event JIFFINA 2016 yang akan digelar 13-16 Maret 2016 mendatang di Jogja Expo Center diharap bisa menggaet banyak buyer potensial ke Yogyakarta, Jawa Tengah, dan sekitarnya.

"Yogya punya beberapa keunggulan. Antara lain karena posisinya berada di sentral wilayah Jawa dan Bali, transportasinya juga lebih murah dan mudah. Kondisi ini diharapkan bisa mempercepat daya saing di MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)," katanya.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asmindo, Rudi T Luwia mengatakan, Yogyakarta memiliki potensi pengembangan industri mebel dan kerajinan secara lebih fresh karena di sini banyak desainer muda.

Dia melihat bahwa JIFFINA nantinya bisa menjadi sumber inovasi dan diversifikasi dalam industri mebel. Namun begitu, pihaknya menggarisbawahi agar para pengusaha tidak hanya terfokus pada pasar ekspor saja.

"Pasar lokal juga sebuah opportunity yang bisa digarap," katanya.

Sementara itu, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, pengusaha furniture dan interior musti tanggap terhadap perubahan tren pasar. Pasalnya desain0desain mebel dan furniture yang diminati market terus berubah.

Dengan begitu, tren desain pada 2016 ini harus disikapi pengusaha dengan lebih cermat supaya produknya bisa diterima pasar. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved