Ruang Interaksi di DIY Kian Menipis
krisis identitas itu terjadi karena mereka membangun sentimen pribadi, dan itu susah untuk dihilangkan.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
Arie Sujito
Sosiolog UGM
TRIBUNJOGJA.COM - Semakin menguatnya reproduksi sentimen kelompok yang bermunculan menjadi faktor utama pemicu terjadinya konflik antarkelompok.
Mereka sudah saling bersaing sebelumnya dan tidak terbangun kultur untuk saling menghormati satu sama lain.
Kalau di kalangan anak muda, rata-rata dari mereka sedang berproses untuk mereproduksi identitas persaingan antarkelompok.
Menurut saya, krisis identitas itu terjadi karena mereka membangun sentimen pribadi, dan itu susah untuk dihilangkan.
Oleh sebab itu, perlu ada ruang edukasi untuk membangun kultur saling menghormati satu sama lain dan merayakan identitas dengan tanpa kekerasan.
Saat ini di Yogya sedang terjadi kerentanan hubungan antarkelompok. Kita melihat hubungan mereka sepertinya harmonis, padahal sebetulnya penuh ketegangan.
Hal tersebut disebabkan oleh semakin menipisnya ruang-ruang untuk berinteraksi satu sama lain. Akibatnya perhatian untuk membangun penghormatan identitas antarkelompok juga berkurang.
Hal tersebut tentu saja tidak bisa dibilang masalah sepele.
Selama ini pemerintah kurang proaktif. Mereka bertindak ketika sudah ada kejadian.
Harusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan langkah pencegahan, satu di antaranya adalah dengan memperbanyak forum kewargaan, dialog antaretnis, forum pertemuan, forum antarwarga, forum antaragama, forum kerjasama.
Sehingga muncul pengertian untuk mau mengerti kondisi satu sama lain, membangun kultur toleran, dan tidak mencurigai satu sama lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/arie-sudjito_0201_20160102_094018.jpg)