Good Governance Bentengi Dari ISIS

"Di Solo dan Klaten lebih kuat daripada di Yogya. Berbeda sekali dengan di negara saya (Singapura). Orang-orang akan berfikir ribuan kali."

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Prof Dr Bilveer Singh, dalam Seminar dan Launching Buku Radikalisme dan Gerakan Islam Non Mainstream dan Kebangkitan Islam Politik di Indonesia, Rabu (16/12/2015), di Gedung Pascasarjana UMY. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Saat ini banyak kekerasan yang terjadi mengtasnamakan dan melibatkan agama Islam. Sehingga makin banyak pula isu yang mengatakan Islam sebagai musuh.

Hal tersebut yang dikatakan Prof Dr Bilveer Singh, dalam Seminar dan Launching buku ‘Radikalisme dan Gerakan Islam non Mainstream dan Kebangkitan Islam Politik di Indonesia’, di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana UMY, Rabu (16/12).

Singh menambahkan jika isu Islam Radikal saat ini tengah marak diperbincangkan oleh publik. Terutama dengan adanya kasus pengeboman di Paris dan Penembakan di California yang dikait-kaitkan dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

“Di Indonesia sendiri sudah ada Katibah Nusantara yang merupakan kaki tangan IS yang dikepalai oleh orang Indonesia. Ini fakta,” tegas Dosen National University of Singapore tersebut.

Bahkan Katibah Nusantara sudah mengirimkan banyak anggotanya untuk berperang di negara-negara konflik seperti Afghanistan.

Walau begitu, pria yang telah melakukan penelitian di Indonesia selama bertahun-tahun tersebut menganggap Yogya relatif tenang daripada Solo dan Klaten dalam pergerakan Islam radikal.

"Di Solo dan Klaten lebih kuat daripada di Yogya. Berbeda sekali dengan di negara saya (Singapura). Orang-orang akan berfikir ribuan kali jika ingin menentang negara, karena hukuman yang diterapkan di sana tak main-main," urainya kepada Tribun Jogja.

Ia pun memberikan pendapatnya untuk membentengi Indonesia dari Islam radikal diperlukan sistem pemerintahan yang bagus.

"Butuh good governance, baik itu segi politik, ekonomi, maupun sosial. Jika pemerintahan kuat, tak akan ada kesempatan Islam radikal untuk melakukan pergerakan di Indonesia," sarannya.

Selain Singh, pembicara lain yang hadri dalam diskusi tersebut adalah Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, Dr Zuly Qodir (Direktur ASM), dan KH Abdul Hasan (Pengurus PBNU). (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved