RTH Terkendala Pengadaan Lahan Yang Sulit
Pembangunan Ruang Terbuka Hijau di Kota Yogyakarta masih terkendala sulitnya mencari lahan yang kosong.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pembangunan Ruang Terbuka Hijau di Kota Yogyakarta masih terkendala sulitnya mencari lahan yang kosong, karena sebagian besar lahan yang ada telah digunakan untuk pembangunan.
Guru Besar dan Rektor Institut Teknologi Yogyakarta, Profesor Chafid Fandeli, menuturkan, masih kurangnya ruang terbuka hijau yang ada di Kota Yogyakarta,"Jelas kurang dan perlu ditambah lagi," ujar Chafid, Selasa (8/12/2015).
Lanjutnya, merujuk kepada PP Nomor 3 Tahun 2012, yang mensyaratkan hutan kota atapun RTH sebanyak 10% dari luas keseluruhan suatu kota.
Sedangkan pada Permendagri Nomor 1 Tahun 2007 mensyaratkan 20% luas suatu kota dibangun menjadi RTH.
Padahal, setidaknya merujuk kepada PP Nomor 3 Tahun 2012, 10% luas kota yang seluas 3, 2 km persegi, setidaknya terdapat 329 ha RTH atau Hutan Kota.
Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta sendiri hanya mengelola jalur terbuka hijau dan taman kota seluas 73.036 m2 atau hanya 7,3 Ha.
Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Agustina Christiani, menuturkan, sulitnya mencari lahan yang kosong untuk pembangunan ruang terbuka hijau, karena lahan yang ada telah terpakai untuk utilitas lain, kebanyakan untuk pembangunan infrastruktur dan juga permukiman.
"Pembebasan lahan sudah sulit sekarang karena lahannya yang udah ga ada. Kalau perlu, kami usulkan lahan di pinggiran sungai dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH)," tutur Ana, Selasa (8/12/2015).
Lanjut Ana, pihaknya (DPRD) tengah membahas penataan kawasan kumuh yang bakal dilaksanakan pada tahun 2016 mendatang, termasuk ide perencanaan RTH.
Anggaran pun telah dipersiapkan melalui Dana Alokasi Khusus sejak tahun 2015, sebesar 14 Miliar lebih, namun baru teralokasikan sebanyak 8 Miliar.
"Sudah ada 14 Miliar dialokasikan sejak tahun lalu, tapi baru terserap 8 Miliar tahun ini, nanti sisanya akan kami terapkan tahun depan, untuk melakukan penataan kawasan kumuh," ujar Ana.
Guru Besar dan Rektor Institut Teknologi Yogyakarta, Profesor Chafid Fandeli, sulitnya membangun RTH baru dapat disiasati dengan sistem penanaman vertikultur, ataupun pemanfaatan lantai gedung untuk dijadikan taman (roof garden), ataupun pergola dengan penghijauan.
"Ruang atap gedung sebetulnya dapat digunakan sebagai ruang hijau, termasuk vertikultur ataupun pergola yang diberikan penghijaun di atasnya," ujar Chafid, Selasa (8/12/2015). (tribunjogja.com)