Penyandang Difabel Dilatih Menulis
Menulis adalah kebutuhan bagi semua orang. Menulis dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan juga dibutuhkan dalam pekerjaan.
Penulis: Santo Ari | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menulis adalah kebutuhan bagi semua orang. Menulis dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan juga dibutuhkan dalam pekerjaan.
Tak terkecuali dengan penyandang difabel yang berasal dari latar belakang yang berbeda.
Kebanyakan para penyandang difabel memang bisa membaca dan menulis, tetapi mereka terkendala untuk merangkai kalimat agar menjadi suatu bentuk tulisan yang informatif.
Padahal, tulisan itu dapat digunakan untuk melaporkan segala bentuk kegiatan yang mereka lakukan.
Pusat Rehabilitasi Yakkum Yogyakarta bekerjasama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mata Aksara menggelar pelatihan menulis bagi para peserta kursus yang tinggal di asrama Yakkum.
Materi yang diberikanpun dimulai dengan yang sederhana telebih dahulu, yakni tulisan pengenalan diri dan tulisan yang menggambarkan sebab mereka behagia.
Beragam ekspresi tercurah dalam tulisan itu. Walau sangat sederhana dan beberapa ada yang sulit dibaca, namun tulisan tangan mereka dapat menggetarkan hati bagi yang membaca.
Salah satu peserta bernama Habibi, yang merupakan penyandang Cerebral palsy, mengatakan kebahagiannya adalahs saat dia memperoleh pulsa dan kuota internet.
"Bisa browsing sepuasnya, apalagi kalau ada free wifi, wuuiih itu bahagianya luar biasa" tulis Habibi.
Adapula yang melayangkan tulisannya dengan gaya yang berpuisi. Tus, pria asal Gunungkidul menuliskan persaannya kepada seorang perempuan.
Perempuan itu merupakan objek bahagianya, adapun tulisan itu berbunyi "Bahagia yang pernah aku alami adalah saat memandang matanya. Senyum bibirnya yang membuat teduh, mendamaikan perasaan hati yang sedang kacau".
Salah seorang penyandang difabel Noviana Eva, dalam tulisanya menceritakan bahwa dirinya terlahir dengan normal. Akan tetapi pada tahun 2014 silam, ia harus kehilangan kakinya karena kecelakaan.
Ia menuliskan bahwa ia terus bersemangat dalam menjalani hidup, dan akan membuktikan kepada orang yang ia sayang bahwa dirinya dapat terus berkarya dengan keadaannya sekarang.
Saat didatangi wartawan, Novi, panggilan akrabnya sangat terbuka dan bersemangat. Ia membenarkan terkait apa yang ia tulis. Dalam kesempatan itu ia mengutarakan rasa antusiasnya dalam mengikuti kelas menulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berlatih-menulis_20151130_210628.jpg)