Tribun Opini

Menyoal Data Statistik Pengunjung Perpustakaan

Perpustakaan yang berkembang dan mengkuiti kebutuhan zaman, memang tidak sebatas memberikan layanan akan kebutuhan informasi lewat media cetak

Editor: Muhammad Fatoni
dok.pri
R Hartoko 

R Hartoko
Anggota Perpustakaan Kota No 01114/09

BEBERAPA edisi Tribun Jogja memberitakan keunggulan dan kelebihan layanan Perpustakaan Kota Yogyakarta.

Diberitakan, Kepala Perpustakaan Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, mengatakan, data statistik menunjukkan bahwa jumlah pengunjung meningkat setiap tahun, terutama setelah tersedianya fasilitas wi-fi atau layanan internet nirkabel gratis. (Tribun Jogja, 11/11)

Perpustakaan yang berkembang dan mengkuiti kebutuhan zaman, memang tidak sebatas memberikan layanan akan kebutuhan informasi lewat media cetak seperti buku, tetapi sudah berkembang ke arah media digital.

Namun sejauh mana pengunjung memanfaatkan kemudahan dan fasilitas yang ada untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya? Bukan sekadar menjadi konsumen berita atau informasi yang serbadigital? Hal ini perlu penelitian mendalam.
Buku (tercetak) tidak akan pernah tergantikan oleh keberadaan buku online.

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, sebagaimana radio dan televisi. Kehadiran televisi pernah menjadi ancaman bagi radio, waktu itu; namun seiring perkembangan teknologi, kehadiran radio tetap diperlukan walau perannya tidak lagi seperti sebelum adanya televisi.

UU No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, menyebutkan, perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Secara kuantitatif mungkin Perpustakaan Kota berhasil memenuhi fungsi dan tujuannya. Namun kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari keberhasilan yang hanya berdasarkan pada ukuran kuantitatif.

Persoalan yang kualitatif pun perlu mendapat perhatian, jika memang negara dan bangsa memiliki komitmen untuk melakukan perubahan lewat revolusi mental.

Jangan merasa cepat berpuas diri dengan hasil yang diperoleh secara kuantitatif lewat data statistik meningkatnya jumlah pengunjung, jika pengunjung ternyata sekadar memanfaatkan layanan internet gratis.

Sekadar menjadi konsumen informasi dan menunjukkan eksistensi diri lewat up date status di sosial media. Bukan untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan.

Jangan cepat berpuas diri dengan meningkatnya jumlah anggota perpustakaan jika ternyata anggotanya jarang meminjam buku karena sulitnya proses meminjam buku.

Sebab, selain harus menunjukkan kartu anggota, orang juga harus meninggalkan kartu identitas seperti KTP, SIM atau kartu mahasiswa (KTM) di perpustakaan.

Padahal tiga kartu tersebut sangat berarti bagi pemiliknya. Mahasiswa sangat membutuhkan KTM untuk mengikuti ujian, saat masuk atau memaanfaatkan perpustakaan di kampus atau hal lain, termasuk berurusan dengan bank. Karena tidak sedikit KTM yang terkoneksi dengan layanan perbankan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved