Kenalkan Kewatek dan Nowing dari Tanah Adonara
Seolah ingin langsung memperkenalkan diri, kain tersebut menunjukkan identitas pemilik stan tersebut berasal, Adonara, Flores Timur, NTT.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah stan yang terbentuk dari anyaman daun lontar kering tampak memeriahkan gelaran Gembruduk 6, Kamis (19/11/2015), di Halaman Auditorium UNY.
Berbagai kain tenun khas dijadikan sebagai dinding stan tersebut. Seolah ingin langsung memperkenalkan diri, kain tersebut menunjukkan identitas pemilik stan tersebut berasal, Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Hampir semua mahasiswa Adonara yang meninggalkan kampung halaman, akan dititipi kain tenun khas daerah sana. Orang tua menitipkannya sebagai penjaga kami selama berada di luar Adonara. Kain tersebut juga membuat kami ingat tentang kampung halaman kami. Itu kepercayaan yang berkembang dari dulu hingga sekarang," terang Silvester Tonny Tokan, salah satu mahasiswa yang menjaga stan tersebut.
Sekilas terdapat dua perbedaan. Ada kain dengan motif warna-warni, ada juga kain tenun yang berasal dari satu warna.
Kain bermotif warna-warni bernama kewatek yakni kain tenun yang khusus dikenakan oleh perempuan.
Sementara kain yang digunakan untuk pria disebut nowing, yang memiliki warna monoton. Kain tersebut digunakan untuk upacara adat di Adonara, seperti pernikahan dan pemakaman.
"Kain tersebut memang tidak kami jual. Hanya sebagai pajangan jika ada teman-teman yang tertarik untuk bertanya. Kalau yang untuk dijual, mereka bisa pesan di sini. Tapi yang di sini tidak dijual, karena titipan orang tua," imbuh Tonny lantas tersenyum.
Selain itu, kewatek dan nowing merupakan pelengkap kostum tarian daerah mereka.
Tarian yang dibawakan poleh pria bernama Hedung. Tarian tersebut menceritakan tentang perang. Maka, sebagai pelengkap kostumnya digunakan gala (tombak),dopi (perisai), bolo (gelang kaki), kenube (parang), dan juga kenobo (topi yang dibuat dari anyaman daun lontar).
"Bunyi bolo menggambarkan semangat pasukan perang. Tiap sentakan kaki yang menghasilkan bunyi riuh, itu bisa membangkitkan semangat pejuang," ungkap Beatrice Kewawara Nguliman, penjaga stan Adonara, kepada Tribun Jogja.
Tarian lain yang terdiri dari enam penari perempuan adalah Enena. Tarian Enena digunakan untuk menyambut para pejuang yang pulang dari medan perang.
Namun karena kini zaman semakin tentram, maka Enena digunakan sebagai tarian penyambutan tamu dalam sebuah acara.
"Penari Enena menggunakan kewatek, snae(selendang), nile (kalung yang terbuat dari sejenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar pantai), dan gelang gading. Tarian Enena ditampilkan setelah Hedung. Umumnya yang dilakukan seperti itu," ungkap Beatrice.
Kedua tarian tersebut ditampilkan dalam malam puncak Gembruduk 6, pada Kamis malam (19/11/2015).
"Kami ingin mengenalkan budaya timur ini kepada masyarakat. Indonesia itu luas, tak hanya Jakarta dan Yogya, namun kami yang dari Timur Indonesia juga punya cerita. Ini salah satu budaya yang kami sampaikan melalui kegiatan ini," tutup Tonny. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mahasiswa-adonara_20151119_162156.jpg)