Produk IKM DIY Miliki Keunggulan Hadapi MEA
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, berbagai produk Industri Kecil Menengah (IKM) di DIY memiliki keunggulan menghadapinya.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, berbagai produk Industri Kecil Menengah (IKM) di DIY memiliki keunggulan menghadapinya.
Namun demikian, para pelaku IKM tersebut diharapkan berhati-hati terutama dalam kerahasiaan pembuatan produknya. Untuk terus meningkatkan kekuatan bersaing, pemerintah juga akan mendukung dalam hal teknologi.
Plh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) DIY, R Baskara Kadarmanta Aji mengatakan, produk IKM merupakan produk yang memiliki ciri khas. Karenanya, menghadapi MEA, pihaknya optimis produk IKM bisa bersaing.
"Menghadapi MEA, kami sangat berharap pada IKM karena produknya memiliki kekhasan yang tidak mungkin ada kompetitornya. Misalnya saja berbagai macam makanan olahan dari singkong. Yang penting sekarang adalah bagaimana pemerintah bisa menyediakan teknologi. Selama ini mereka terkendala teknologi karena mahal," jelasnya di sela acara Gelar Produk Budaya Khas Jogja di Galeria Mall, Selasa (17/11/2015).
Untuk itu, lanjutnya, akan ada pengadaan teknologi untuk pelaku IKM. Ada penerapan teknologi berupa alat yang bisa dipakai bersama. Selain itu, mereka juga bisa membeli alat dengan harga terjangkau.
Menghadapi MEA, menurut Baskara Aji, kekhawatiran lebih pada pemain dari luar yang membawa produk yang sama. Hal ini sangat mungkin terjadi bila orang luar tersebut meniru produk yang ada.
"Untuk itu saya pesankan, boleh terbuka, tapi jangan terlalu banyak. Jangan biasakan orang datang, tanya-tanya, foto-foto, bahkan masuk ke bengkel atau dapur lalu mendapat penjelasan sedalam-dalamnya. Jangan. Pelaku industri harus mulai menyadari pentingnya proses pembuatan ini," ungkap Baskara Aji.
Dari sisi perlindungan berupa Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), selama ini IKM melihat HAKI sebagai sesuatu yang mahal. Untuk itu pihaknya memiliki balai untuk mengurus HAKI IKM secara bersama-sama. "Dalam hal HAKI ini, setiap tahun sekitar 50 IKM yang kami bantu," imbuhnya.
Mengenai penyelenggaraan Gelar Produk Budaya Khas Jogja sendiri, terang Baskara Aji, merupakan event rutin untuk memperkenalkan produk IKM kepad masyarakat luas, khususnya pasar domestik.
Selama ini menurutnya produksi lokal sudah ada, hanya saja masalahnya ada pada pemasaran. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gelar-produk-budaya-khas-jogja-2015_20151118_180923.jpg)