Harus Perbanyak Upaya Mencegah Radikalisme
Semua kelompok teroris dan radikal kini menggunakan media sosial sebagai alat rekruitmen dan propaganda.
Penulis: dnh | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Semua kelompok teroris dan radikal kini menggunakan media sosial sebagai alat rekruitmen dan propaganda. Cara itu efektif dan besar sekali pengaruhnya ke generasi muda dan para pengguna internet.
"Sekarang strategi kita juga bermain di media itu untuk melakukan counter narasi, counter propaganda. Jadi kita ajak akademisi, tokoh masyarakat memperbanyak tulisan‑tulisan sebagai counter propaganda," tutur Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idrisd beberap waktu lalu.
Mereka sangat kencang melakukan itu. Kita tahu tak sedikit korban berjatuhan, mereka yang terlibat aksi teror dan diawali pelajaran dari situs‑situs radikal di internet.
Daya tarik situs-situ radikal itu besar karena menggunakan simbol-simbol agama.
Sebenarnya bukan situsnya yang negatif, tapi kontennya yang berbahaya. Ada situs yang terang-terangan mengajari merakit bom, menebarkan kebencian, mengkafirkan orang lain, menolak Pancasila.
Nah, ini yang perlu kita melakukan counter bahwa ideologi negara Pancasila adalah harga mati dan tidak bisa ditawar‑tawar.
Perubahan metode propaganda dan rekrutmen menggunakan media sosial dan internet jelas mengefektifkan gerakan mereka. Mereka tak perlu harus ke rumah‑rumah, tak butuh tempat pertemuan, dan tak perlu transport.
Bagaimana dengan generasi muda kita? Anak-anak kita yang belum bisa memfilter konten? Tentu berbagai upaya harus dilakukan untuk memperkuat imunitas anak‑anak terhadap konten ideologi radikal. (tribunjogja.com)