Makanan Khas Jogja Tak Hanya Gudeg

Untuk lebih memperkenalkan ragam wisata kuliner yang ada di DIY, puluhan peserta dari seluruh kabupaten/kota di DIY mengikuti Festival Kuliner DIY.

Penulis: apr | Editor: oda
tribunjogja/anasapriyadi
Untuk lebih memperkenalkan ragam wisata kuliner yang ada di DIY, puluhan peserta dari seluruh kabupaten/kota di DIY mengikuti Festival Kuliner DIY 2015. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Anas Apriyadi

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Untuk lebih memperkenalkan ragam wisata kuliner yang ada di DIY, puluhan peserta dari seluruh kabupaten/kota di DIY mengikuti Festival Kuliner DIY 2015 di Desa Wisata Giriloyo, Wukirsari, Imogiri pada Minggu (25/9/2015).

Kasi Kelembagaan Dinas Pariwisata DIY, Haris Iskandar selaku panitia menjelaskan festival kali ini diikuti oleh 40 kelompok peserta, dimana tiap kabupaten/kota diperbolehkan mengirimkan dua tim dalam tiap empat kategori yang dipertandingkan.

"Kategorinya Sate Klathak, Gudeg Manggar, Ingkung, dan Mie Lethek," jelasnya.

Pemilihan jenis-jenis kuliner tersebut menurutnya dimaksudkan agar makanan khas yang mulai naik daun ini tidak kalah tenar dibanding gudeg, bakpia, maupun geplak.

"Karena masing-masing kabupaten/kota punya ikon kuliner, ini akan memperkaya karena apa yang ada di jogja tidak hanya gudeg," terangnya.

Dalam festival ini menurutnya masakan para peserta akan dinilai dari rasa dan juga penyajiannya dengan juri dari praktisi kuliner, wisata, dan juga media.

Kedepan, Dinas Pariwisata DIY menurutnya juga akan melakukan identifikasi dan memetakan potensi wisata kuliner yang masih belum digali maksimal layaknya sentra gudeg di Wijilan dan sentra Bakpia di Pathuk.

Dengan begitu wisatawan yang datang ke DIY bisa dengan mudah memilih wisata kulinernya.

"Harapannya kita bisa memotivasi industri kuliner dan mengangkat makanan-makanan ini menjadi suatu daya tarik di Bantul dan DIY pada umumnya," ujarnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata DIY, Rose Sutikno menerangkan berbagai potensi kuliner khas DIY menjadi budaya yang harus terus dilestarikan agar tidak punah.

"Tugas berat kita melestarikan budaya kuliner yany telah diciptakan nenek moyang kita dengan melakukan edukasi dan melangsungkannya pada anak-cucu," tuturnya.

Selain dilestarikan, makanan tradisional menurutnya juga harus dipromosikan kepada daerah lain bahkan ke bangsa lain, agar bisa dikenal dan menjadi potensi pariwisata yang bisa memberi manfaat pada masyarakat.

"Tiap daerah punya ciri khas kuliner, festival ini digelar untuk lebih meningkatkan kualitas kuliner dan mengetahui apa saja kekurangannya," tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved