Aral, Danau Terluas yang Menemui Ajal

Pernahkah anda membayangkan, jika danau keempat terluas di dunia bisa hilang, mengering, tak berbekas?

Editor: Mona Kriesdinar
mirutadelaseda.com
Bangkai kapal yang ditinggalkan, dulunya kapal-kapal ini beroperasi di Laut Aral yang kini telah berubah menjadi padang pasir, mengering 

TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah anda membayangkan, jika danau keempat terluas di dunia bisa hilang, mengering, tak berbekas? Inilah yang terjadi pada Aral Sea, atau Laut Aral.

Sebenarnya, Laut Aral merupakan sebuah danau. Disebut laut karena ukurannya yang sangat luas, hingga mencapai 68 ribu kilometer persegi dengan dihiasi lebih dari 1000 pulau kecil di tengahnya. Danau yang memiliki titik terdalam 68 meter ini berada di jantung benua Asia, membentang dari Kazakhstan terutama di wilayah Aktobe dan Kyzylorda di utara hingga ke Uzbekistan di sebelah selatan.

Luasnya danau juga mencakup wilayah Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, bagian selatan Republik Kyrgyzstan, dan selatan Kazakhstan. Serta mencakup sedikit bagian Afganistan dan Iran.


Foto: mirutadelaseda.com

Selama berabad-abad lamanya, danau ini menjadi sumber penghidupan bagi warga yang mencari ikan maupun bercocok tanam di sekitar danau. Pun keindahan danau menjadi daya tarik tersendiri yang sayang jika dilewatkan. Ada dua sungai besar utama yang terhubung ke Danau Aral, yakni Sungai AmuDar'ya yang berada di Uzbekistan dan Sungai Syr Darya yang berada di wilayah Kazakhstan.

Kedua sungai inilah yang memasok persediaan air bagi danau yang diperkirakan terbentuk pada 20 ribu tahun yang lalu atau pada akhir periode jaman es.

Danau Aral juga disebut-sebut merupakan habitat bagi 34 spesies ikan, dimana 20 jenis ikan diantaranya termasuk merupakan ikan bernilai tinggi. Dulunya, memiliki pelabuhan, tempat penangkaran ikan, serta kapal-kapal penangkap ikan yang terus mengarungi luasnya danau yang dulunya pernah terhubung dengan laut Kaspia ini. Di tahun 1960-an, Danau Aral juga menjadi tempat industri perikanan yang sangat menjanjikan bagi sekitar 60 ribu orang pelaku industri ini.


Foto: remotelands.com

Namun itu dulu. Kini, Danau Aral seolah menjadi contoh bencana lingkungan terburuk dalam sejarah.

Awal mula bencana

Kerusakan yang terjadi di Danau Aral bermula sekitar tahun 1960-an. Saat itu, Uni Soviet melakukan proyek irigasi dengan mengalihkan aliran air dari Sungai AmuDar'ya dan Syr Darya untuk menyulap lahan tandus padang pasir menjadi lahan pertanian. Pemerintahan Uni Soviet pada saat itu memang tengah gencar-gencarnya melakukan pengembangan produk pertanian semisal padi, melon, gandum dan kapas.


Foto: YouTube

Proyek irigasi ini meliputi pembangunan kanal sepanjang 20 ribu mil, 45 dam dan lebih dari 80 unit reservoir yang semuanya digunakan untuk mengairi lahan di Kazakhstan dan Uzbekistan.

Otomatis, sejak saat itu pasokan air yang mengarah ke Danau Aral pun berkurang bahkan terhenti.

Ini terjadi sekitar tahun 1980, ketika memasuki musim panas. Aliran air yang berasal dari dua sungai besar itu, mengering sebelum bisa mencapai danau. Akibatnya, volume air di Danau Aral berkurang drastis.

Pada tahun 1989, Danau Aral kemudian terbagi menjadi dua bagian, yakni Greater Sea di bagian selatan dan Lesser Sea bagian utara. Pada tahun 1992, luas kedua bagian danau ini juga berkurang drastis dan ketinggian air juga menurun signifikan.

Melihat kondisi tersebut, sebenarnya sudah dilakukan upaya penyelamatan yang melibatkan Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan, namun ada kesulitan dalam mengkordinasikan rencana masing-masing negara tersebut.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved